As-sunnah

A. Definisi As sunnah

Sunnah (سنه) secara etimologi berarti jalan yang bisa dilalui.

Menurut bahasa, As-Sunnah berarti ‘perjalanan’, dalam konteks baik ataupun buruk. Khalid bin Utbah Al-Hadzali berkata :
“Janganlah engkau berhenti dari suatu perjalanan yang telah engkau lakukan. Orang yang pertama kali merasa senang terhadap suatu perjalanan adalah orang yang melakukannya.”
Dalam suatu Hadits, Rasulullah S.A.W bersabda :
“Barang siapa melakukan buat sunnah (perjalanan perbuatan) yang baik maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya, dan barang siapa melakukan suatu Sunnah (perjalanan, perbuatan) yang buruk . . . . .” maka baginya siksa siksaan orang yang mengerjakan sampai hari kiamat.
Dalam Al Qur’an kata sunnah dalam 16 tempat yang tersebar dalam beberapa surat dengan arti “kebiasaan yang berlaku” dan jaan yang diikuti. Contoh Firman Allah surat Ali ‘Imron (3):137. Dan Al-Isra’ (17):77

As-Sunnah Menurut Syara’
1. AS-Sunnah menurut Ulama Hadits ( Muhaditsun )
As-Sunnah adalah “ segala yang dinukil dari Nabi S.A.W, berupa ucapan, perbuatan, taqrir,sifat, baik sifat fisik atau akhlak, atau tingkah laku diangkat sebagai rasul ( misalnya tahannuts beliau di gua hira ) atau masa sesudahnya.” As-Sunnah dengan pengertian ini sama dengan hadits nabi S.A.W.
2. As-Sunnah menurut Ulama Ushul Fikih ( Ushulliyyun )
As-Sunnah adalah “ segala yang bersumber dari nabi saw, selain Al-Qur’an Al-Karim, yaitu ucapan, perbuatan atau taqrir beliau, yang semuanya dapat menjadi dalil hukum syara’.”
3. As-Sunnah menurut Ulama Fikih ( Fuqaha )
As-Sunnah adalah segala yang tetap ( bersumber ) dari Nabi saw yang tidak termasuk dalam bab fardu dan tidak pula wajib. Maka, As-Sunnah berarti “ jalan yang diikuti dalam agama, yang bukan fardu dan bukan pula wajib.”
B. Bukti khujjahan mengenai as sunnah

Dalam firman Allah surat Ali Imron 3:31
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dalam surat Al ahzab 33:21
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Dalam surat An nisa 4:59
”Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” .

C. Hubungan sunnah dengan al-Qur’an
Sunnah berfungsi sebagai penjelas terhadap Al-Qur’an hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an, sunnah kadang-kadang memperluas hukum dalam Al-Qur’an atau menetapkan sendiri hukum diluar apa yang ditentukan Allah dalam Al-Qur’an. Kedudukan Al-Quran sebagai Bayani atau menjalanan fungsi yang menjelaskan hukum Al-Qura’an, tidak diragukan lagi dan dapat diterima oleh semua pihak, karena memang untuk itulah Nabi ditugaskan Allah SWT.
Jumhur ulama berpendapat bahwa sunnah berkedudukan sebagai sumber atau dalil kedua sesudah Al-Qur’an dan mempunyai kekuatan untuk ditaati serta mengikat untuk semua umat Islam. Kkuatan sunnah sebagai sumber hukum ditentukan oleh dua segi yaitu segi kebenaran menerimanya dan segi kekuatan penunjukannya terhadap hukum.
Dapat disimpulkan maka fungsi as Sunnah adalah:
Bayan Tafsir,
yaitu menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal dan musytarak.
Bayan Taqrir
yaitu As-Sunnah berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan al-Qur’an
Bayan Taudhih
yaitu menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat al-Qur’an
D. Kategori sunnah dari sisi sanad dan perowinya
Ada banyak model pengklasifikasian al-sunnah, sebagaimana terungkap dalam disiplin ilmu teori hadits (mushthalah al-hadîts). Namun, fokus pembahasan kali ini diarahkan pada pembagian al-sunnah dari sisi sanad (transmisi) periwayatannya, dan beberapa hal berkaitan dengan aktivitas penggalian hukum.
Menurut mayoritas ulama’, dari segi sanadnya, al-sunnah terbagi dalam dua klasifikasi, sunnah mutawâtirah dan sunnah âhâd. Sementara kalangan Hanafiyyah mengklasifikasikan al-sunnah dalam tiga kategori. sunnah mutawâtirah, sunnah masyhûrah dan sunnah âhâd. Perbedaan teori klasifikasi ini, menurut Mushthafa Syalbi, tidak hanya sekedar dalam tataran istilah, tetapi ada konsekwensi tersendiri di balik perbedaan ini, yang tidak jarang hingga memunculkan perbedaan pendapat dalam tataran sintesa hukum fiqhiyyah
Berikut ini pemaparan dari definisi dan posisi masing-masing kategori:
1. Sunnah mutawâtirah
Secara literal, mutawâtir berarti al-tatâbu’ (berurutan). Sebagaimana pengertian ini adalah firman Allah:
ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَا (المؤمنون 44)
Artinya: Kemudian kami mengutus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berurut-urut. (QS: Al-Mu’minun ayat 44).
. 2. Sunnah Masyhûrah
Adalah sunnah yang pada permulaannya diriwayatkan oleh tiga, dua bahkan seorang sahabat, kemudian pada kurun pasca-shahabat mengalami penyebaran sehingga teriwayatkan oleh sekelompok orang yang menurut penilaian akal tidak mungkin mereka bersepakat untuk melakukan kebohongan. Secara singkat diungkapkan, bahwa hadits masyhur adalah hadits yang pada generasi awal teriwayatkan secara âhâd, kemudian pada dua kurun setelahnya teriwayatkan secara mutawâtir.
3.Sunnah Âhâd
Para ulama’ berselisih pendapat dalam mendefinisikan sunnah âhâd sesuai dengan perspektif masing- masing. Menurut mayoritas ulama’, sunnah âhâd adalah sunnah yang pada fase-fase periwayatannya hanya melibatkan orang per orang perawi dengan periwayat tidak sampai mencapai batas mutawâtir
E. Status hukum qoth’i ataukah zhonni
Qothi dan zhonni
Secara bahasa yang dimaksud dengan qath’i adalah putus, pasti, atau diam.
Akan tetapi ke-qath’i-an tersebut lahir dari gabungan sejumlah dalil yang secara bersama-sama mendukung penunjukkan kepada makna (ad-dalalah) yang pasti. Rukun Islam yang ada 5 (lima) itu misalnya adalah qath’i, dan ke-qath’i-annya diperoleh dengan cara demikian. Kewajiban shalat misalnya tidak semata-mata ditunjukkan oleh perintah di dalam firman Allah SWT:
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang ruku’
(QS. al-Baqarah: 43).
Bersamaan inilah yang membuat Firman Allah SWT menjadi wajib dan membuat hukum wajib tersebut adalh Qoth’i
Secara bahasa yang dimaksud dengan Zhonni adalah perkiraan, sangkaan (antara benar dan salah). Menurut asy-Syatibi, Dalil Zhonni ini dibagi dalam 3 (tiga) kategori:
Pertama, Dalil Zhonni yang dinaungi oleh suatu prinsip universal yang qath’i (Ashl Qath’i). Prinsip ini disimpulkan dalil sejumlah dalil juz’i atau kasus-kasus detail, seperti larangan bertindak merugikan dan berbuat madharat terhadap istri (QS. at-Thalaq, [65]: 6), terhadap mantan istri yang dirujuk.
Kedua, Dalil Zhonni yang bertentangan dengan suatu prinsip yang qath ‘i
Ketiga, Dalil Zhonni yang tidak bertentangan dengan suatu prinsip yang qath’i, tetapi tidak pula dinaungi oleh suatu prinsip yang qath’i.

F. Ucapan, timgkah laku, perbuatan Nabi yang tidak menjadi sumber hukum
a. Ucapan Nabi (sunnah Qouliyah)
“ siapa yang tidak sholat karena tertidur atau karena ia lupa, hendaklah ia mengerjakan sholat itu ketika
Ia telah ingat.’’
b. Tingkah laku Nabi (sunnah fi’liyah)
“ sahabat melihat Nabi Muhammad SAW melakukan sholat sunnat dua roka’at sesudah sholat zuhur.
c. Perbuatan Nabi (sunnah Taqririyah)
Nabi melihat seorang sahabat memakan daging dhab di dekat Nabi. Nbi mengetahui, tetapi Nabi tidak melarang perbuatan
BAB III
Penutup
Kesimpulan
sunnah adalah:cara yang bisa dilakukan, apakah cara itu sesuai yang baik, atau buruk. Serta aunnah merupakan sumber huum ke dua setelah Al-Qur’an, dan sunnah berfungsi sebagai penjelas hukum dalam Al-Qur’an. Dan status sunnah dibagi dua yaitu qothhi dan zanni. Sunnah dibagi tiga yaitu sunnah qauliyah, sunnah fi’liyah, sunnah taqririyah.
Saran
Apabila dalam penulisan ini yang saya susun mengenai pembahasan tentang as sunnah sangat terbatas, serta saya senantiasa menunggu saran dari dosen pengampu mata kuliyah Ushul Fiqh, ilmu yang tentunya untu perbaikan dalam penulisan-penulisan selanjutnya.
Daftar pustaka
Syarifuddin, Amir. 2011.Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana Media Group
http://sucay-rm.blogspot.com/2011/12/as-sunnah.html di akses tanggal 11 April 2014 jam 19:51

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s