Opinion Leader

PERAN OPINION LEADER DALAM SISTEM KOMUNIKASI INDONESIA
MAKALAH
Disusun guna untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah : Drs. H. Najahan Musyafak, MA

Disusun oleh:
1. Fikri Amarullah (11111111)
2. Priska nur Safitri (131211054)
3. Wahyu Widianingsih (131211053)
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
IAIN WALISONGO
SEMARANG
l. Pendahuluan
ll. Rumusan Masalah
1. Sejarah opinion leader?
2. Bagaimana cara mengetahui opinion leader?
3. Bagaimana opinion leader dalam sistem komunikasi ?
4. Bagaimana opinion leader di indonesia ?

lll. PEMBAHASAN
1. Sejarah opinion leader
Intelektual amerika begitu ketakutan ketika model jarum hipodermik telah mencapai sasaran secara jelas dengan implikasi munculnya perang dunia 1 yang dihembuskan oleh Adolf Hitler. Model tersebut dianggap sebagai cara ampuh guna membangkitkan “kemarahan” massa. Begitu kuat dan besarnya peran media dalam mempengaruhi perilaku massa.
Untuk itu, Paul Lazarfeld dan kawan-kawannya mencoba mengkaji kembali kapasitas media massa dalam membawakan perubahan-perubahan. Ternyata melalui suatu penelitian di ery contry, ohio, amerika serikat tentang “perilaku pemilih” dalam pemilihan presiden pada 1940 menunjukan hasil yang sangat kontras (terutama bagi mereka penganut model jarum hipodermik). Ditemukan bahwa fakta media mempunyai peran sangat kecil dan terbatas dalam mempengaruhi perilaku pemilih. Hasil penelitian ini membuyarkan teori jarum hipodermik yang selama ini dikembangkan dan diakui keampuhannya.
Beberapa riset menunjukan hampir tidak ada pemungutan suara yang secara langsung dipengaruhi oleh media. Data menunjukan bahwa ide-ide mengalir dari radio dan barang cetakan lain kepada opinion leader dan baru di teruskan ke audiensi. Disini menunjukan betapa besarnya pengaruh opinion leader, khususnya dalam mempengaruhi masyarakat pemilih. Dari sini pula berkembang teori tentang peran opinion leader dalam masyarakat.
Istilah opinion leader menjadi perbincangan dalam literatur komunikasi sekitar tahun 1950-1960-an. Sebelumnya dalam literatur komunikasi sering digunakan kata-kata influentitals, influencers, tastemakers untuk menyebut opinion leader. Kata opinion leader kemudian lebih lekat pada kondisi masyarakat diperdesaan, sebab tingkat media exposure –nya yang masih rendah dan tingkat pendidikan masyarakat yang belum menggembirakan. Akses ke media lebih dimungkinkan dari merekalah kadang perkembangan kontemporer diketahui masyarakat. Ini berarti, mereka secara tidak langsung menjadi perantara (bahkan penterjemah pesan) berbagai informasi yang diterima olehnya kemudian diteruskan kepada masyarakat. Pihak yang sering terkena media exposure di masyarakat desa kadang diperankan oleh opinion leader. Mereka ini sangat dipercaya disamping juga menjadi panutan, tempat bertanya dan meminta nasihat bagi anggota masyarakatnya.
Adapun kata opinion leadership (kepemimpinan opini) lebih menunjukan pada bentuk kegiatan atau hal-hal yang berhubungan dengan aktivitas opinion leader. Namun, dalam hal ini kita tidak akan membedakan terlalu tajam kedua istilah tersebut. sebab, membahas opinion leadership (sebagai sebuah lembaga sosial) tidak akan terlepas dari peran opinian leader (individunya), sedangkan membahas opinion leader tidak lain juga membahas aktifitasnya dan kegiatan pihak itu yang menjadi bahasan opinion leadership.
Ada dua pengelompokan opinion leader berdasarkan aktif tidaknya dalam periilaku.
a. Opinion leader aktif ( opinion giving) opinion leader di sebut aktif jika ia sengaja mencari penerima atau followers untuk mengumumkan atau mensosialisasikan suatu informasi.
b. Opinion leader pasif (opinion seeking). Artinya, opinion leader dicari oleh followersnya.
2. Cara mengetahui Opinion leader
Didalam pengambilan keputusan, maka orang biasanya mencari apa yang dikenal sebagai opinion leader, atau pemimpin pendapat. Pemimpin pendapat atau opinion leader demikian adalah orang yang mempunyai pengaruh yang besar atau keputusan yang diambil oleh orang-orang disekitarnya. Bahwa seorang pemimpin pendapat memang biasanya adalah orang yang lebih tahu, disebabkan karena kedudukan (sosial) nya adalah sedemikian rupa, sehingga volume informasinya memang banyak.
Menurut Everett M Rogers (1973) setidak-tidaknya ada tiga cara mengukur atau mengetahui adanya opinion leader. 1. Metode Sosiometrik
Dalam metode ini pada masyarakat ditanyakan kepada siapa mereka meminta nasihat atau mencari informasi mengenai masalah kemasyarakatan yang dihadapinya.
2. Informants Rating
Lewat metode ini diajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu pada orang atau responden yang dianggap sebagai key informants dalam masyarakat mengenai siapa yang diaggap masyarakat sebagai pemimpin-pemimpin mereka. Dalam metode ini orang yang ingin mengetahui pemimpin masyarakat lewat responden harus jeli dalan memilih key informants dan mereka yang benar-benar dengan masyarakatlah yang selaknyalah dipilih.
3. Self Designing Method
Dengan metode ini kita dapat mengajukan pertanyaan kepada responden dan minta ditunjukkan tendensi orang lain yang dapat menunjuk siapa-siapa yang diperkirakan mempunyai pengaruh. Validitas pertanyaan ini sangat tergantung pada ketepatan (akurasi) responden untuk mengidentifikasi dirinya sebagai pemimpin.
Karakteristik Opinion Leader
1. Lebih tinggi pendidikan formalnya dibdengan anggota masyarakat lainnya.
2. lebih tinggi status sosial ekonominya. (SSE)
3. lebih inovatif dalam menerima dan mengambil ide baru
4. Lebih tinggi pengenalan medianya (media exposure)
5. Kemampuan empatinya lebih besar
6. Partisipasinya lebih besar.
7. Lebih Kosmopolit (mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas).
Fungsi opinion leader khususnya daerah pedesaan yaitu:
a. Fungsi tanggap terhadap inovasi
b. Fungsi pembinaan
c. Fungsi pengarahan
Pada suatu saat masyarakat mengalami kemajuan yang berarti, peran opinion leader lambat laun akan terkurangi. Sebab berbagai macam ciri yang dimiliki pemuka pendapat itu sudah melekat pada masyarakat desa. Misalnya, jika sebelumnya masyarakat menanyakan tentang sebuah inovasi pada pemika pendapat namun karena tingkat pendidikan dan media exposure yang lebih tinggi, banyak pemuka desa justru lebih mengetahui tentang inivasi tersebut. Dalam kondisi inilah pemimpin opini akan mengalami pergeseran peran.
3. Opinion leader dalam sistem komunikasi
Pada dasarnya, komunikasi tidak hanya penting bagi seorang pemimpin akan tetapi juga penting bagi para pengikut karena setiap tindakan, keputusan, dan arahan yang diambil atau diberikan oleh seorang pemimpin kepada pengikutnya, juga dilakukan dengan berkomunikasi. Jadi, pengikut juga harus memiliki kemampuan berkomunikasi guna lancarnya usaha dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Tak bisa di pungkiri bahwa opinion leader menjadi salah satu unsur yang sangat mempengaruhi arus komunikasi, khususnya di pedesaan. Berbagai perubahan dan kemajuan masyarakat sangat ditentukan oleh opinion leader ini. Misalnya, pemimpin opini bisa berperan memotivasi masyarakat agar ikut serta secara aktif dalam pembangunan. Untuk itulah selayaknya pemerintah memberikan perhatian khusus pada pemuka pendapat ini. Sebaliknya sikap meremehkan peran opinion leader justru merugikan, sebab program pembangunan akan banyak hambatan. Misalnya tentang kepercayaan masyarakat pada program pembangunan. Selayaknya pemerintah memfungsikan peran opinion leader dalam pembanguna masyarakat.
Disinilah peran opinion leader dalam masyarakat khususnya pedesaan dalam pembangunan pertanian dan adopsi inovasi dalam bidang pertanian. Misalnya untuk daerah padat penduduk, usaha intensifikasi tanaman pangan merupakan keharusan. Perlu diingat bahwa usaha intensifikasi mempunyai batas-batas (tidak mungkin produksi dapat ditingkatkan), sehingga pada suatu saat perluasan areal perlu pula dilaksanakan. Usaha ini yang sekarang juga sedang digalakkan oleh pemerintah adalah usaha diversifikas tanaman. Disinilah peran opinion leader untuk mempercepat perubahan inovasi di desa. Sebagaimana juga diakui oleh Everett M. Rogers dan Shoemaker bahwa orng-orang yang paling tinggi status sosialnya (termasuk masalah pendidikan) dalam sistem sosial jarang sekali berinteraksi langsung dengan orang-orang yang paling rendah status sosialnya. Hasil penelitian Van den Ban (1963) di Belanda menemukan fakta bahwa apa yang dilakukan oleh pemuka pendapat cenderung diikuti masyarakat.
4. Opinion leader di Indonesia
Sebagaimana sudah diketahui sebelumnya, kajian tentang pemimpin opini ini awalnya muncul di Amerika seperti yang ditunjukkan oleh Paul Lazarefeld dan kawan-kawan. Oleh karena itu model-model arus informasi yang mendekati pembahasan pemimpin opini ini adalah model two step flow. Asumsi dasarnya, media massa tidak langsung mengenai audience tetapi melalui pemimpin opininya. Kemudian informasi yang didapatkan tadi disampaikan kepada para pengikutnya. Pemuka pendapat yang dimaksud disini adalah seseorang yang relatif dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku orang lain untuk bertindak dalam cara tertentu.
Opinion leader dalam kehidupan politik
Pemimpin opini adalah mereka yang punya otoritas tinggi dalam menentukan sikap dan perilaku pengikutnya. Bukan dari kedudukan, jabatan politik tetapi karena kewibawaan, ketundukan, kharisma, mitos yang melekat padanya atau karena pengetahuan serta pengalaman yang dimilikinya. Sebab pada saat sekarang banyak para pemimpin politik yang hanya disanjung dengan jabatannya saja.
Megawati dan Gus Dur dianggap sebagai pemimpin opini.
1. Megawati dan Gus Dur menjadi panutan pengikutnya.
2. Mereka menentukan apa yang harus dilakukan pengikutnya.
3. Peran keduanya juga mengukuhkan bahwa media massa punya pengaruh yang kecil dalam mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakatnya.
5. Opinion leader dalam kehidupan sosial
Peranan pemimpin opini dalam kehiduan sosial di Indonesia juga tidak bisa dibilang rendah. Karena pemimpin opini sangat dipercaya dalam masyarakatnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s