As-sunnah

A. Definisi As sunnah

Sunnah (سنه) secara etimologi berarti jalan yang bisa dilalui.

Menurut bahasa, As-Sunnah berarti ‘perjalanan’, dalam konteks baik ataupun buruk. Khalid bin Utbah Al-Hadzali berkata :
“Janganlah engkau berhenti dari suatu perjalanan yang telah engkau lakukan. Orang yang pertama kali merasa senang terhadap suatu perjalanan adalah orang yang melakukannya.”
Dalam suatu Hadits, Rasulullah S.A.W bersabda :
“Barang siapa melakukan buat sunnah (perjalanan perbuatan) yang baik maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya, dan barang siapa melakukan suatu Sunnah (perjalanan, perbuatan) yang buruk . . . . .” maka baginya siksa siksaan orang yang mengerjakan sampai hari kiamat.
Dalam Al Qur’an kata sunnah dalam 16 tempat yang tersebar dalam beberapa surat dengan arti “kebiasaan yang berlaku” dan jaan yang diikuti. Contoh Firman Allah surat Ali ‘Imron (3):137. Dan Al-Isra’ (17):77

As-Sunnah Menurut Syara’
1. AS-Sunnah menurut Ulama Hadits ( Muhaditsun )
As-Sunnah adalah “ segala yang dinukil dari Nabi S.A.W, berupa ucapan, perbuatan, taqrir,sifat, baik sifat fisik atau akhlak, atau tingkah laku diangkat sebagai rasul ( misalnya tahannuts beliau di gua hira ) atau masa sesudahnya.” As-Sunnah dengan pengertian ini sama dengan hadits nabi S.A.W.
2. As-Sunnah menurut Ulama Ushul Fikih ( Ushulliyyun )
As-Sunnah adalah “ segala yang bersumber dari nabi saw, selain Al-Qur’an Al-Karim, yaitu ucapan, perbuatan atau taqrir beliau, yang semuanya dapat menjadi dalil hukum syara’.”
3. As-Sunnah menurut Ulama Fikih ( Fuqaha )
As-Sunnah adalah segala yang tetap ( bersumber ) dari Nabi saw yang tidak termasuk dalam bab fardu dan tidak pula wajib. Maka, As-Sunnah berarti “ jalan yang diikuti dalam agama, yang bukan fardu dan bukan pula wajib.”
B. Bukti khujjahan mengenai as sunnah

Dalam firman Allah surat Ali Imron 3:31
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dalam surat Al ahzab 33:21
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Dalam surat An nisa 4:59
”Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” .

C. Hubungan sunnah dengan al-Qur’an
Sunnah berfungsi sebagai penjelas terhadap Al-Qur’an hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an, sunnah kadang-kadang memperluas hukum dalam Al-Qur’an atau menetapkan sendiri hukum diluar apa yang ditentukan Allah dalam Al-Qur’an. Kedudukan Al-Quran sebagai Bayani atau menjalanan fungsi yang menjelaskan hukum Al-Qura’an, tidak diragukan lagi dan dapat diterima oleh semua pihak, karena memang untuk itulah Nabi ditugaskan Allah SWT.
Jumhur ulama berpendapat bahwa sunnah berkedudukan sebagai sumber atau dalil kedua sesudah Al-Qur’an dan mempunyai kekuatan untuk ditaati serta mengikat untuk semua umat Islam. Kkuatan sunnah sebagai sumber hukum ditentukan oleh dua segi yaitu segi kebenaran menerimanya dan segi kekuatan penunjukannya terhadap hukum.
Dapat disimpulkan maka fungsi as Sunnah adalah:
Bayan Tafsir,
yaitu menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal dan musytarak.
Bayan Taqrir
yaitu As-Sunnah berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan al-Qur’an
Bayan Taudhih
yaitu menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat al-Qur’an
D. Kategori sunnah dari sisi sanad dan perowinya
Ada banyak model pengklasifikasian al-sunnah, sebagaimana terungkap dalam disiplin ilmu teori hadits (mushthalah al-hadîts). Namun, fokus pembahasan kali ini diarahkan pada pembagian al-sunnah dari sisi sanad (transmisi) periwayatannya, dan beberapa hal berkaitan dengan aktivitas penggalian hukum.
Menurut mayoritas ulama’, dari segi sanadnya, al-sunnah terbagi dalam dua klasifikasi, sunnah mutawâtirah dan sunnah âhâd. Sementara kalangan Hanafiyyah mengklasifikasikan al-sunnah dalam tiga kategori. sunnah mutawâtirah, sunnah masyhûrah dan sunnah âhâd. Perbedaan teori klasifikasi ini, menurut Mushthafa Syalbi, tidak hanya sekedar dalam tataran istilah, tetapi ada konsekwensi tersendiri di balik perbedaan ini, yang tidak jarang hingga memunculkan perbedaan pendapat dalam tataran sintesa hukum fiqhiyyah
Berikut ini pemaparan dari definisi dan posisi masing-masing kategori:
1. Sunnah mutawâtirah
Secara literal, mutawâtir berarti al-tatâbu’ (berurutan). Sebagaimana pengertian ini adalah firman Allah:
ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَا (المؤمنون 44)
Artinya: Kemudian kami mengutus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berurut-urut. (QS: Al-Mu’minun ayat 44).
. 2. Sunnah Masyhûrah
Adalah sunnah yang pada permulaannya diriwayatkan oleh tiga, dua bahkan seorang sahabat, kemudian pada kurun pasca-shahabat mengalami penyebaran sehingga teriwayatkan oleh sekelompok orang yang menurut penilaian akal tidak mungkin mereka bersepakat untuk melakukan kebohongan. Secara singkat diungkapkan, bahwa hadits masyhur adalah hadits yang pada generasi awal teriwayatkan secara âhâd, kemudian pada dua kurun setelahnya teriwayatkan secara mutawâtir.
3.Sunnah Âhâd
Para ulama’ berselisih pendapat dalam mendefinisikan sunnah âhâd sesuai dengan perspektif masing- masing. Menurut mayoritas ulama’, sunnah âhâd adalah sunnah yang pada fase-fase periwayatannya hanya melibatkan orang per orang perawi dengan periwayat tidak sampai mencapai batas mutawâtir
E. Status hukum qoth’i ataukah zhonni
Qothi dan zhonni
Secara bahasa yang dimaksud dengan qath’i adalah putus, pasti, atau diam.
Akan tetapi ke-qath’i-an tersebut lahir dari gabungan sejumlah dalil yang secara bersama-sama mendukung penunjukkan kepada makna (ad-dalalah) yang pasti. Rukun Islam yang ada 5 (lima) itu misalnya adalah qath’i, dan ke-qath’i-annya diperoleh dengan cara demikian. Kewajiban shalat misalnya tidak semata-mata ditunjukkan oleh perintah di dalam firman Allah SWT:
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang ruku’
(QS. al-Baqarah: 43).
Bersamaan inilah yang membuat Firman Allah SWT menjadi wajib dan membuat hukum wajib tersebut adalh Qoth’i
Secara bahasa yang dimaksud dengan Zhonni adalah perkiraan, sangkaan (antara benar dan salah). Menurut asy-Syatibi, Dalil Zhonni ini dibagi dalam 3 (tiga) kategori:
Pertama, Dalil Zhonni yang dinaungi oleh suatu prinsip universal yang qath’i (Ashl Qath’i). Prinsip ini disimpulkan dalil sejumlah dalil juz’i atau kasus-kasus detail, seperti larangan bertindak merugikan dan berbuat madharat terhadap istri (QS. at-Thalaq, [65]: 6), terhadap mantan istri yang dirujuk.
Kedua, Dalil Zhonni yang bertentangan dengan suatu prinsip yang qath ‘i
Ketiga, Dalil Zhonni yang tidak bertentangan dengan suatu prinsip yang qath’i, tetapi tidak pula dinaungi oleh suatu prinsip yang qath’i.

F. Ucapan, timgkah laku, perbuatan Nabi yang tidak menjadi sumber hukum
a. Ucapan Nabi (sunnah Qouliyah)
“ siapa yang tidak sholat karena tertidur atau karena ia lupa, hendaklah ia mengerjakan sholat itu ketika
Ia telah ingat.’’
b. Tingkah laku Nabi (sunnah fi’liyah)
“ sahabat melihat Nabi Muhammad SAW melakukan sholat sunnat dua roka’at sesudah sholat zuhur.
c. Perbuatan Nabi (sunnah Taqririyah)
Nabi melihat seorang sahabat memakan daging dhab di dekat Nabi. Nbi mengetahui, tetapi Nabi tidak melarang perbuatan
BAB III
Penutup
Kesimpulan
sunnah adalah:cara yang bisa dilakukan, apakah cara itu sesuai yang baik, atau buruk. Serta aunnah merupakan sumber huum ke dua setelah Al-Qur’an, dan sunnah berfungsi sebagai penjelas hukum dalam Al-Qur’an. Dan status sunnah dibagi dua yaitu qothhi dan zanni. Sunnah dibagi tiga yaitu sunnah qauliyah, sunnah fi’liyah, sunnah taqririyah.
Saran
Apabila dalam penulisan ini yang saya susun mengenai pembahasan tentang as sunnah sangat terbatas, serta saya senantiasa menunggu saran dari dosen pengampu mata kuliyah Ushul Fiqh, ilmu yang tentunya untu perbaikan dalam penulisan-penulisan selanjutnya.
Daftar pustaka
Syarifuddin, Amir. 2011.Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana Media Group
http://sucay-rm.blogspot.com/2011/12/as-sunnah.html di akses tanggal 11 April 2014 jam 19:51

akidah akhlak

A. Definisi As sunnah

Sunnah (سنه) secara etimologi berarti jalan yang bisa dilalui.

Menurut bahasa, As-Sunnah berarti ‘perjalanan’, dalam konteks baik ataupun buruk. Khalid bin Utbah Al-Hadzali berkata :
“Janganlah engkau berhenti dari suatu perjalanan yang telah engkau lakukan. Orang yang pertama kali merasa senang terhadap suatu perjalanan adalah orang yang melakukannya.”
Dalam suatu Hadits, Rasulullah S.A.W bersabda :
“Barang siapa melakukan buat sunnah (perjalanan perbuatan) yang baik maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya, dan barang siapa melakukan suatu Sunnah (perjalanan, perbuatan) yang buruk . . . . .” maka baginya siksa siksaan orang yang mengerjakan sampai hari kiamat.
Dalam Al Qur’an kata sunnah dalam 16 tempat yang tersebar dalam beberapa surat dengan arti “kebiasaan yang berlaku” dan jaan yang diikuti. Contoh Firman Allah surat Ali ‘Imron (3):137. Dan Al-Isra’ (17):77

As-Sunnah Menurut Syara’
1. AS-Sunnah menurut Ulama Hadits ( Muhaditsun )
As-Sunnah adalah “ segala yang dinukil dari Nabi S.A.W, berupa ucapan, perbuatan, taqrir,sifat, baik sifat fisik atau akhlak, atau tingkah laku diangkat sebagai rasul ( misalnya tahannuts beliau di gua hira ) atau masa sesudahnya.” As-Sunnah dengan pengertian ini sama dengan hadits nabi S.A.W.
2. As-Sunnah menurut Ulama Ushul Fikih ( Ushulliyyun )
As-Sunnah adalah “ segala yang bersumber dari nabi saw, selain Al-Qur’an Al-Karim, yaitu ucapan, perbuatan atau taqrir beliau, yang semuanya dapat menjadi dalil hukum syara’.”
3. As-Sunnah menurut Ulama Fikih ( Fuqaha )
As-Sunnah adalah segala yang tetap ( bersumber ) dari Nabi saw yang tidak termasuk dalam bab fardu dan tidak pula wajib. Maka, As-Sunnah berarti “ jalan yang diikuti dalam agama, yang bukan fardu dan bukan pula wajib.”
B. Bukti khujjahan mengenai as sunnah

Dalam firman Allah surat Ali Imron 3:31
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dalam surat Al ahzab 33:21
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Dalam surat An nisa 4:59
”Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” .

C. Hubungan sunnah dengan al-Qur’an
Sunnah berfungsi sebagai penjelas terhadap Al-Qur’an hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an, sunnah kadang-kadang memperluas hukum dalam Al-Qur’an atau menetapkan sendiri hukum diluar apa yang ditentukan Allah dalam Al-Qur’an. Kedudukan Al-Quran sebagai Bayani atau menjalanan fungsi yang menjelaskan hukum Al-Qura’an, tidak diragukan lagi dan dapat diterima oleh semua pihak, karena memang untuk itulah Nabi ditugaskan Allah SWT.
Jumhur ulama berpendapat bahwa sunnah berkedudukan sebagai sumber atau dalil kedua sesudah Al-Qur’an dan mempunyai kekuatan untuk ditaati serta mengikat untuk semua umat Islam. Kkuatan sunnah sebagai sumber hukum ditentukan oleh dua segi yaitu segi kebenaran menerimanya dan segi kekuatan penunjukannya terhadap hukum.
Dapat disimpulkan maka fungsi as Sunnah adalah:
Bayan Tafsir,
yaitu menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal dan musytarak.
Bayan Taqrir
yaitu As-Sunnah berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan al-Qur’an
Bayan Taudhih
yaitu menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat al-Qur’an
D. Kategori sunnah dari sisi sanad dan perowinya
Ada banyak model pengklasifikasian al-sunnah, sebagaimana terungkap dalam disiplin ilmu teori hadits (mushthalah al-hadîts). Namun, fokus pembahasan kali ini diarahkan pada pembagian al-sunnah dari sisi sanad (transmisi) periwayatannya, dan beberapa hal berkaitan dengan aktivitas penggalian hukum.
Menurut mayoritas ulama’, dari segi sanadnya, al-sunnah terbagi dalam dua klasifikasi, sunnah mutawâtirah dan sunnah âhâd. Sementara kalangan Hanafiyyah mengklasifikasikan al-sunnah dalam tiga kategori. sunnah mutawâtirah, sunnah masyhûrah dan sunnah âhâd. Perbedaan teori klasifikasi ini, menurut Mushthafa Syalbi, tidak hanya sekedar dalam tataran istilah, tetapi ada konsekwensi tersendiri di balik perbedaan ini, yang tidak jarang hingga memunculkan perbedaan pendapat dalam tataran sintesa hukum fiqhiyyah
Berikut ini pemaparan dari definisi dan posisi masing-masing kategori:
1. Sunnah mutawâtirah
Secara literal, mutawâtir berarti al-tatâbu’ (berurutan). Sebagaimana pengertian ini adalah firman Allah:
ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَا (المؤمنون 44)
Artinya: Kemudian kami mengutus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berurut-urut. (QS: Al-Mu’minun ayat 44).
. 2. Sunnah Masyhûrah
Adalah sunnah yang pada permulaannya diriwayatkan oleh tiga, dua bahkan seorang sahabat, kemudian pada kurun pasca-shahabat mengalami penyebaran sehingga teriwayatkan oleh sekelompok orang yang menurut penilaian akal tidak mungkin mereka bersepakat untuk melakukan kebohongan. Secara singkat diungkapkan, bahwa hadits masyhur adalah hadits yang pada generasi awal teriwayatkan secara âhâd, kemudian pada dua kurun setelahnya teriwayatkan secara mutawâtir.
3.Sunnah Âhâd
Para ulama’ berselisih pendapat dalam mendefinisikan sunnah âhâd sesuai dengan perspektif masing- masing. Menurut mayoritas ulama’, sunnah âhâd adalah sunnah yang pada fase-fase periwayatannya hanya melibatkan orang per orang perawi dengan periwayat tidak sampai mencapai batas mutawâtir
E. Status hukum qoth’i ataukah zhonni
Qothi dan zhonni
Secara bahasa yang dimaksud dengan qath’i adalah putus, pasti, atau diam.
Akan tetapi ke-qath’i-an tersebut lahir dari gabungan sejumlah dalil yang secara bersama-sama mendukung penunjukkan kepada makna (ad-dalalah) yang pasti. Rukun Islam yang ada 5 (lima) itu misalnya adalah qath’i, dan ke-qath’i-annya diperoleh dengan cara demikian. Kewajiban shalat misalnya tidak semata-mata ditunjukkan oleh perintah di dalam firman Allah SWT:
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang ruku’
(QS. al-Baqarah: 43).
Bersamaan inilah yang membuat Firman Allah SWT menjadi wajib dan membuat hukum wajib tersebut adalh Qoth’i
Secara bahasa yang dimaksud dengan Zhonni adalah perkiraan, sangkaan (antara benar dan salah). Menurut asy-Syatibi, Dalil Zhonni ini dibagi dalam 3 (tiga) kategori:
Pertama, Dalil Zhonni yang dinaungi oleh suatu prinsip universal yang qath’i (Ashl Qath’i). Prinsip ini disimpulkan dalil sejumlah dalil juz’i atau kasus-kasus detail, seperti larangan bertindak merugikan dan berbuat madharat terhadap istri (QS. at-Thalaq, [65]: 6), terhadap mantan istri yang dirujuk.
Kedua, Dalil Zhonni yang bertentangan dengan suatu prinsip yang qath ‘i
Ketiga, Dalil Zhonni yang tidak bertentangan dengan suatu prinsip yang qath’i, tetapi tidak pula dinaungi oleh suatu prinsip yang qath’i.

F. Ucapan, timgkah laku, perbuatan Nabi yang tidak menjadi sumber hukum
a. Ucapan Nabi (sunnah Qouliyah)
“ siapa yang tidak sholat karena tertidur atau karena ia lupa, hendaklah ia mengerjakan sholat itu ketika
Ia telah ingat.’’
b. Tingkah laku Nabi (sunnah fi’liyah)
“ sahabat melihat Nabi Muhammad SAW melakukan sholat sunnat dua roka’at sesudah sholat zuhur.
c. Perbuatan Nabi (sunnah Taqririyah)
Nabi melihat seorang sahabat memakan daging dhab di dekat Nabi. Nbi mengetahui, tetapi Nabi tidak melarang perbuatan
BAB III
Penutup
Kesimpulan
sunnah adalah:cara yang bisa dilakukan, apakah cara itu sesuai yang baik, atau buruk. Serta aunnah merupakan sumber huum ke dua setelah Al-Qur’an, dan sunnah berfungsi sebagai penjelas hukum dalam Al-Qur’an. Dan status sunnah dibagi dua yaitu qothhi dan zanni. Sunnah dibagi tiga yaitu sunnah qauliyah, sunnah fi’liyah, sunnah taqririyah.
Saran
Apabila dalam penulisan ini yang saya susun mengenai pembahasan tentang as sunnah sangat terbatas, serta saya senantiasa menunggu saran dari dosen pengampu mata kuliyah Ushul Fiqh, ilmu yang tentunya untu perbaikan dalam penulisan-penulisan selanjutnya.
Daftar pustaka
Syarifuddin, Amir. 2011.Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana Media Group
http://sucay-rm.blogspot.com/2011/12/as-sunnah.html di akses tanggal 11 April 2014 jam 19:51

AKIDAH AKHLAK

BAB I
PENDAHULUAN
l. LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam tradisi tasawuf , teori yang menyebut karakter keluhuran yang seharusnya dimiliki manusia. Dalam konteks perilaku (takhalluq), mengimplikasikan kesempurnaan. Perasaan menyatu dengan tuhan, kesetaraan, keadilan, keindahan, keutuhan, keserasian, kesederhanaan, dan sifat-sifat kebaikan lainya.
Peradapan manusia pada zaman globalisasi terperangkap oleh jeratan materialisme, hedonisme. Dimana dunia yang serba penuh kerakusan, ketidakjujuran, dan penindasan serta eksploitasi, maka jalan sufi menjadi pentinguntuk dipertimbangkan. Namun, penting disadari bahwa jalan sufi bukanlah jalan yang anti interaksi, melainkan jalan kebebasan.
Karena itu penting memahami bahwa jalan sufi bukan semata jalan menuju Tuhanyang isolatif(hanya menyibukkan diri dengan tuhan). Tapi jalan sufi adalah jalan sosial untuk mengurusi segala sesuatu bagi kemaslahatan umat manusia.
ll. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian Maqomat?
2. Apa saja struktur maqomat?
3. Apa pengertian hal?
4. Apa saja struktur hal?

BAB ll
PEMBAHASAN
A. Maqomat
Secara etimologis, maqomat adalah jamak dari maqom yang berarti kedudukan posisi, tingkatan(station) atau kedudukan dan tahapan dalam mendekatkan diri kepada Tuhan . Maqom yang arti dasarnya ‘’tempat berdiri. Dalam terminologi sufistik berarti tempat atau martabat seorang hamba dihadapan Allah pada saat ia berdiri menghadap kepada-Nya.
Secara harfiah maqomat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah.
Pendapat Al-Qusyairi, bahwa magom merupakan pengalaman puncak yang terjadi pada hamba Allah berat ketinggian martabatnya sebagai hasil dari riyadhah yang dilakukan.
Susunan karakter maqomat:
Al-Kalabadzi: taubat, zuhud, shabr, faqir, taqwa, ridho, mababbah, dan ma’rifat.
Al-Qusyairi merumuskan maqomat dengan: taubah, wara’, zuhud, tawakal, shabr, dan ridho.
Abu Nasr al-Sarraj yaitu :taubat, wara’, zuhud, faqr, shabr, tawakal, dan ridho.
Struktur Maqomat
Untuk itu dalam uraian ini, maqomat akan dijelaskan adalah maqomat yang disepakati secara umum
1. Taubah
Dengan melakukan taubat, jiwa seseorang akan kembali kepada fitrahnya. Seseorang menjadi tidak mudah luntur dalam pesona duniawi dan bebas dari segala sesuatuyang dapat menghalangi perjalanan menemukan diri fitri-nya
Diterangkan (QS. An-Nur, 24:31)
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah , hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
2. Wara
Merupakan menjauhi segala sesuatu yang tidak bermanfaat, baik menyangkut diri sendiri maupun orang lain. Nabi bersabda, jadilah kamu orang-orang yang wara’ agar kamu dapat menjadi orang yang paling tekun beribadah.. dalam Al-Qur’an surat Al-Muddatstsir ayat 1-5.
3. Zuhud
Secara harfiah zuhud berarti tidak ingin kepada sesuatu yang bersifat keduniawian. Zuhud sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh kehidupan dunia. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al-A’la, 87:17)
4. Faqr
Faqr adalah kondisi seseorang yang tidak membutuhkan apapun selain Tuhan, dan itu ditandai dengan tidak adanya harta benda. Tuhan menyangka sebagaimana kamu meyangka atau sangkaanmu adalah sangkaan Allah. (hadist Qudsi)
5. Shabr
Shabr merupakan sikap ketundukan secara total kepada Allah SWT, dan merupakan kondisi kejiwaan karena dorongan keimanan. (QS. Al-ahqof, 46:35) dan (QS. Al-Nahl, 16:127)

6. Tawakal
Orang yang selalu tawakal ditandai dengan selalu menyatunya perasaan tenang dan tentram serta penuh kerelaan atas segala yang diterimanya, optimis dan senantiasa memiliki harapan atas segala yang dicita-citakan

Dan bertawakallah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mumin itu harus bertawakkal. (QS. Al-Maidah, 5:11)
7. Ridha
Ridha merupakan keadaan mental dan kejiwaan yang senantiasa berlapang dada dalam menerima segala karunia yang diteima, maupun bala’ yang menimpa. Sikap mental ini adalah merupakan maqom tertinggi yang dicapai oleh orang yang melakukan latihan spiritual.
B. Hal

Wid tulung sing tawakal surat al maidah ayat 11 arabnya di tulis ya. Jangan lupa ya
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Maqomat merupakan jalan spiritual yang harus dilalui para sufi dalam mencapai tujuan luhurnya, melalui proses penyucian jiwa terhadap kecenderungan materi agar kembali ke jalan Tuhan. Struktur maqomat secara umum adalah taubah, wara’ zuhud, faqr, shabr, tawakkal, ridha.
Hal adalah
Saran
Demikian makalah yang kami tulis tentang maqomat dan hal. Kami sadar bahwa kami dalam penyusunan makalah banyak kesalahan dari segi penulisan maupun penyajian. Serta kami sadar minimnya referensi, untuk itu kritik dan saran dari dosen pengampu mata kuliah akhlah/tasawut dan teman-teman guna memperbaiki makalah kami selanjutnya. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Amin

DAFTAR PUSTAKA
Tohir, Moenir Nahrowi. 2012. Menjelajahi Eksistensi Tasawuf. Jakara:PT. As- Salam
Nata, Abuddin.2012. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers
Amin, Samsul Munir dkk.2005. Kamus Ilmu Tasawuf. Wonosobo:AMZAH

AKIDAH AKHLAK

Akidah secara bahasa artinya ikatan. Sedangkan secara istilah akidah artinya keyakinan hati dan pembenarannya terhadap sesuatu. Dalam pengertian agama maka pengertian akidah adalah kandungan rukun iman, yaitu:

  1. Beriman dengan Allah
  2. Beriman dengan para malaikat
  3. Beriman dengan kitab-kitab-Nya
  4. Beriman dengan para Rasul-Nya
  5. Beriman dengan hari akhir
  6. Beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk

Sehingga akidah ini juga bisa diartikan dengan keimanan yang mantap tanpa disertai keraguan di dalam hati seseorang (lihat At Tauhid lis Shaffil Awwal Al ‘Aali hal. 9, Mujmal Ushul hal. 5)

Kedudukan Akidah yang Benar

Akidah yang benar merupakan landasan tegaknya agama dan kunci diterimanya amalan. Hal ini sebagaimana ditetapkan oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia beramal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Allah ta’ala juga berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: Sungguh, apabila kamu berbuat syirik pasti akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)

Ayat-ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa amalan tidak akan diterima apabila tercampuri dengan kesyirikan. Oleh sebab itulah para Rasul sangat memperhatikan perbaikan akidah sebagai prioritas pertama dakwah mereka. Inilah dakwah pertama yang diserukan oleh para Rasul kepada kaum mereka; menyembah kepada Allah saja dan meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya.

Hal ini telah diberitakan oleh Allah di dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul yang menyerukan ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah)’” (QS. An Nahl: 36)

Bahkan setiap Rasul mengajak kepada kaumnya dengan seruan yang serupa yaitu, “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang benar) bagi kalian selain Dia.” (lihat QS. Al A’raaf: 59, 65, 73 dan 85). Inilah seruan yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan seluruh Nabi-Nabi kepada kaum mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di Mekkah sesudah beliau diutus sebagai Rasul selama 13 tahun mengajak orang-orang supaya mau bertauhid (mengesakan Allah dalam beribadah) dan demi memperbaiki akidah. Hal itu dikarenakan akidah adalah fondasi tegaknya bangunan agama. Para dai penyeru kebaikan telah menempuh jalan sebagaimana jalannya para nabi dan Rasul dari jaman ke jaman. Mereka selalu memulai dakwah dengan ajaran tauhid dan perbaikan akidah kemudian sesudah itu mereka menyampaikan berbagai permasalahan agama yang lainnya (lihat At Tauhid Li Shaffil Awwal Al ‘Aali, hal. 9-10).

Sebab-Sebab Penyimpangan dari Akidah yang Benar

Penyimpangan dari akidah yang benar adalah sumber petaka dan bencana. Seseorang yang tidak mempunyai akidah yang benar maka sangat rawan termakan oleh berbagai macam keraguan dan kerancuan pemikiran, sampai-sampai apabila mereka telah berputus asa maka mereka pun mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat mengenaskan yaitu dengan bunuh diri. Sebagaimana pernah kita dengar ada remaja atau pemuda yang gantung diri gara-gara diputus pacarnya.

Begitu pula sebuah masyarakat yang tidak dibangun di atas fondasi akidah yang benar akan sangat rawan terbius berbagai kotoran pemikiran materialisme (segala-galanya diukur dengan materi), sehingga apabila mereka diajak untuk menghadiri pengajian-pengajian yang membahas ilmu agama mereka pun malas karena menurut mereka hal itu tidak bisa menghasilkan keuntungan materi. Jadilah mereka budak-budak dunia, shalat pun mereka tinggalkan, masjid-masjid pun sepi seolah-olah kampung di mana masjid itu berada bukan kampungnya umat Islam. Alangkah memprihatinkan, wallaahul musta’aan (disadur dari At Tauhid Li Shaffil Awwal Al ‘Aali, hal. 12)

Oleh karena peranannya yang sangat penting ini maka kita juga harus mengetahui sebab-sebab penyimpangan dari akidah yang benar. Di antara penyebab itu adalah:

  1. Bodoh terhadap prinsip-prinsip akidah yang benar. Hal ini bisa terjadi karena sikap tidak mau mempelajarinya, tidak mau mengajarkannya, atau karena begitu sedikitnya perhatian yang dicurahkan untuknya. Ini mengakibatkan tumbuhnya sebuah generasi yang tidak memahami akidah yang benar dan tidak mengerti perkara-perkara yang bertentangan dengannya, sehingga yang benar dianggap batil dan yang batil pun dianggap benar. Hal ini sebagaimana pernah disinggung oleh Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Jalinan agama Islam itu akan terurai satu persatu, apabila di kalangan umat Islam tumbuh sebuah generasi yang tidak mengerti hakikat jahiliyah.”
  2. Ta’ashshub (fanatik) kepada nenek moyang dan tetap mempertahankannya meskipun hal itu termasuk kebatilan, dan meninggalkan semua ajaran yang bertentangan dengan ajaran nenek moyang walaupun hal itu termasuk kebenaran. Keadaan ini seperti keadaan orang-orang kafir yang dikisahkan Allah di dalam ayat-Nya, “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah wahyu yang diturunkan Tuhan kepada kalian!’ Mereka justru mengatakan, ‘Tidak, tetapi kami tetap akan mengikuti apa yang kami dapatkan dari nenek-nenek moyang kami’ (Allah katakan) Apakah mereka akan tetap mengikutinya meskipun nenek moyang mereka itu tidak memiliki pemahaman sedikit pun dan juga tidak mendapatkan hidayah?” (QS. Al Baqarah: 170)
  3. Taklid buta (mengikuti tanpa landasan dalil). Hal ini terjadi dengan mengambil pendapat-pendapat orang dalam permasalahan akidah tanpa mengetahui landasan dalil dan kebenarannya. Inilah kenyataan yang menimpa sekian banyak kelompok-kelompok sempalan seperti kaum Jahmiyah, Mu’tazilah dan lain sebagainya. Mereka mengikuti saja perkataan tokoh-tokoh sebelum mereka padahal mereka itu sesat. Maka mereka juga ikut-ikutan menjadi tersesat, jauh dari pemahaman akidah yang benar.
  4. Berlebih-lebihan dalam menghormati para wali dan orang-orang saleh. Mereka mengangkatnya melebihi kedudukannya sebagai manusia. Hal ini benar-benar terjadi hingga ada di antara mereka yang meyakini bahwa tokoh yang dikaguminya bisa mengetahui perkara gaib, padahal ilmu gaib hanya Allah yang mengetahuinya. Ada juga di antara mereka yang berkeyakinan bahwa wali yang sudah mati bisa mendatangkan manfaat, melancarkan rezeki dan bisa juga menolak bala dan musibah. Jadilah kubur-kubur wali ramai dikunjungi orang untuk meminta-minta berbagai hajat mereka. Mereka beralasan hal itu mereka lakukan karena mereka merasa sebagai orang-orang yang banyak dosanya, sehingga tidak pantas menghadap Allah sendirian. Karena itulah mereka menjadikan wali-wali yang telah mati itu sebagai perantara. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Bukhari). Beliau memperingatkan umat agar tidak melakukan sebagaimana apa yang mereka lakukan Kalau kubur nabi-nabi saja tidak boleh lalu bagaimana lagi dengan kubur orang selain Nabi ?
  5. Lalai dari merenungkan ayat-ayat Allah, baik ayat kauniyah maupun qur’aniyah. Ini terjadi karena terlalu mengagumi perkembangan kebudayaan materialistik yang digembar-gemborkan orang barat. Sampai-sampai masyarakat mengira bahwa kemajuan itu diukur dengan sejauh mana kita bisa meniru gaya hidup mereka. Mereka menyangka kecanggihan dan kekayaan materi adalah ukuran kehebatan, sampai-sampai mereka terheran-heran atas kecerdasan mereka. Mereka lupa akan kekuasaan dan keluasan ilmu Allah yang telah menciptakan mereka dan memudahkan berbagai perkara untuk mencapai kemajuan fisik semacam itu. Ini sebagaimana perkataan Qarun yang menyombongkan dirinya di hadapan manusia, “Sesungguhnya aku mendapatkan hartaku ini hanya karena pengetahuan yang kumiliki.” (QS. Al Qashash: 78). Padahal apa yang bisa dicapai oleh manusia itu tidaklah seberapa apabila dibandingkan kebesaran alam semesta yang diciptakan Allah Ta’ala. Allah berfirman yang artinya, “Allah lah yang menciptakan kamu dan perbuatanmu.” (QS. Ash Shaffaat: 96)
  6. Kebanyakan rumah tangga telah kehilangan bimbingan agama yang benar. Padahal peranan orang tua sebagai pembina putra-putrinya sangatlah besar. Hal ini sebagaimana telah digariskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari). Kita dapatkan anak-anak telah besar di bawah asuhan sebuah mesin yang disebut televisi. Mereka tiru busana artis idola, padahal busana sebagian mereka itu ketat, tipis dan menonjolkan aurat yang harusnya ditutupi. Setelah itu mereka pun lalai dari membaca Al Qur’an, merenungkan makna-maknanya dan malas menuntut ilmu agama.
  7. Kebanyakan media informasi dan penyiaran melalaikan tugas penting yang mereka emban. Sebagian besar siaran dan acara yang mereka tampilkan tidak memperhatikan aturan agama. Ini menimbulkan fasilitas-fasilitas itu berubah menjadi sarana perusak dan penghancur generasi umat Islam. Acara dan rubrik yang mereka suguhkan sedikit sekali menyuguhkan bimbingan akhlak mulia dan ajaran untuk menanamkan akidah yang benar. Hal itu muncul dalam bentuk siaran, bacaan maupun tayangan yang merusak. Sehingga hal ini menghasilkan tumbuhnya generasi penerus yang sangat asing dari ajaran Islam dan justru menjadi antek kebudayaan musuh-musuh Islam. Mereka berpikir dengan cara pikir aneh, mereka agungkan akalnya yang cupet, dan mereka jadikan dalil-dalil Al Qur’an dan Hadits menuruti kemauan berpikir mereka. Mereka mengaku Islam akan tetapi menghancurkan Islam dari dalam. (disadur dengan penambahan dari At Tauhid li Shaffil Awwal Al ‘Aali, hal. 12-13).