Uses and Gratification

NAMA :PRISKA NUR SAFITRI
NIM :131211054
JUR :KPI
MAKUL :TEORI KOMUNIKASI
PENGUNAAN, KEPUASAN, dan KETERGANTUNGAN
Teori penggunaan dan ketergantungan
‘’Teori penggunaan dan kepuasan’’ atau uses-and-gratifications theory merupakan teori yang paling populer dalam komunikasi massa. Teori penggunaan dan kepuasan memfokuskan perhatian pada audiensi sebagai konsumen media massa, dan bukan pesan yang disampaikan.
Asumsi teori menurut Katz, Blumler dan Gurevitch
1. Audiensi aktif dan berorentasi pada tujuan ketika menggunakan media.
2. Inisiatif untuk mendapatkan kepuasan media ditentukan audiensi.
3. Media bersaing dengan sumber kepuasan lain.
4. Audiensi sadar sepenuhnya terhadap ketertarikan, motif, dan penggunaan media.
5. Penilaian isi media ditentukan oleh audiensi.
Model nilai harapan atau dugaan
Philip Palmgreen (1984) mengajukan gagasan bahwa perhatian audiensi terhadap isi media ditentukan oleh yang dimilikinya. Bahwa kepuasan yang diperoleh seseorang dari media ditentukan oleh sikap orang tersebut terhadap media, yaitu kepercayaan dan evaluasi yang diberikan terhadap isi pesan dari media itu. Sementara itu David Swanson dan Austin Barbow menguji hubungan nilai harapan dan kepuasan terhadap media, yaitu penelitian mengenai kebiasaan menonton televisi program berita terhadap pelajar/siswa. Dalam penelitiannya menguji mengenai sikap pelajar/siswa terhadap program berita yang ditayangkan oleh media televisi.

Teori ketergantungan
Sandra Ball-Rokeach dan Malvin DeFleur adalah yang pertama mengusulkan teori ketergantungan(depedency theory). Membahas selangkah lebih maju mengenai bagaimana pengaruh media. ‘’Teori ketergantungan’’ menekankan pada pendekatan sistem secara luas.
Dalam masyarakat industri modern orang bergantung pada media untuk:
1. Memahami dunia sosial,
2. Bertindak bijak dalam masyarakat,
3. Untuk menemukan fantasi.
Sandra Ball-Rokeach dan Malvin DeFleur menyatakan bahwa faktor yang menentukan ketergantungan seseorang terhadap media adalah:
1. Untuk memenuhi kebutuhannya,
2. Stabilitas sosial.
Dalam model penggunaan dan ketergantungan ‘’uses and dependency model’’, elemen tertentu dalam sistem media. Perbedaan individu dan sistem media menyebabkan orang bergantung pada media. Semakin besar ketergantunggan seseorang pada media, maka semakin besar pula efek yang akan ditimbulkan. Menurut M.M. Miller dan S.D. Reese (1982) dalam penelitiannya menemukan efek media semakin besar terjadi pada mereka yang bergantung kepada media dibandingkan dengan mereka yang tidak.
Para ahli setuju bahwa gagasan teori penggunaan dan kepuasan bergantung pada informasi yang diberikan media untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, ketergantungan media merupakan hasil dari dua faktor penting yaitu motif audiensi untuk mendapatkan kepuasan dan ketersediaan alternatif tontonan.
Teori penggunaan, kepuasan, dan ketergantungan termasuk dalam tradisi sosiopsikologis karena teori penggunaan, kepuasan, dan ketergantungan menjelaskan bahwa manusia sebagai makhluk sosial yang dalam kehidupannya, baik tingkah laku, perbuatan, maupun sikap dipengaruhi oleh media yang berperan dalam diri individu. Serta sejauh mana individu tersebut meggunakan media tersebut secara optimal untuk wawasan ataukah sebaliknya.

Daftar Pustaka
Morisson. 2013. Teori Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Karen A. Foss, Stephen W. Littlejohn. 2011. Teori Komunikasi. Jakarta: Salemba Humanika

Opinion Leader

PERAN OPINION LEADER DALAM SISTEM KOMUNIKASI INDONESIA
MAKALAH
Disusun guna untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah : Drs. H. Najahan Musyafak, MA

Disusun oleh:
1. Fikri Amarullah (11111111)
2. Priska nur Safitri (131211054)
3. Wahyu Widianingsih (131211053)
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
IAIN WALISONGO
SEMARANG
l. Pendahuluan
ll. Rumusan Masalah
1. Sejarah opinion leader?
2. Bagaimana cara mengetahui opinion leader?
3. Bagaimana opinion leader dalam sistem komunikasi ?
4. Bagaimana opinion leader di indonesia ?

lll. PEMBAHASAN
1. Sejarah opinion leader
Intelektual amerika begitu ketakutan ketika model jarum hipodermik telah mencapai sasaran secara jelas dengan implikasi munculnya perang dunia 1 yang dihembuskan oleh Adolf Hitler. Model tersebut dianggap sebagai cara ampuh guna membangkitkan “kemarahan” massa. Begitu kuat dan besarnya peran media dalam mempengaruhi perilaku massa.
Untuk itu, Paul Lazarfeld dan kawan-kawannya mencoba mengkaji kembali kapasitas media massa dalam membawakan perubahan-perubahan. Ternyata melalui suatu penelitian di ery contry, ohio, amerika serikat tentang “perilaku pemilih” dalam pemilihan presiden pada 1940 menunjukan hasil yang sangat kontras (terutama bagi mereka penganut model jarum hipodermik). Ditemukan bahwa fakta media mempunyai peran sangat kecil dan terbatas dalam mempengaruhi perilaku pemilih. Hasil penelitian ini membuyarkan teori jarum hipodermik yang selama ini dikembangkan dan diakui keampuhannya.
Beberapa riset menunjukan hampir tidak ada pemungutan suara yang secara langsung dipengaruhi oleh media. Data menunjukan bahwa ide-ide mengalir dari radio dan barang cetakan lain kepada opinion leader dan baru di teruskan ke audiensi. Disini menunjukan betapa besarnya pengaruh opinion leader, khususnya dalam mempengaruhi masyarakat pemilih. Dari sini pula berkembang teori tentang peran opinion leader dalam masyarakat.
Istilah opinion leader menjadi perbincangan dalam literatur komunikasi sekitar tahun 1950-1960-an. Sebelumnya dalam literatur komunikasi sering digunakan kata-kata influentitals, influencers, tastemakers untuk menyebut opinion leader. Kata opinion leader kemudian lebih lekat pada kondisi masyarakat diperdesaan, sebab tingkat media exposure –nya yang masih rendah dan tingkat pendidikan masyarakat yang belum menggembirakan. Akses ke media lebih dimungkinkan dari merekalah kadang perkembangan kontemporer diketahui masyarakat. Ini berarti, mereka secara tidak langsung menjadi perantara (bahkan penterjemah pesan) berbagai informasi yang diterima olehnya kemudian diteruskan kepada masyarakat. Pihak yang sering terkena media exposure di masyarakat desa kadang diperankan oleh opinion leader. Mereka ini sangat dipercaya disamping juga menjadi panutan, tempat bertanya dan meminta nasihat bagi anggota masyarakatnya.
Adapun kata opinion leadership (kepemimpinan opini) lebih menunjukan pada bentuk kegiatan atau hal-hal yang berhubungan dengan aktivitas opinion leader. Namun, dalam hal ini kita tidak akan membedakan terlalu tajam kedua istilah tersebut. sebab, membahas opinion leadership (sebagai sebuah lembaga sosial) tidak akan terlepas dari peran opinian leader (individunya), sedangkan membahas opinion leader tidak lain juga membahas aktifitasnya dan kegiatan pihak itu yang menjadi bahasan opinion leadership.
Ada dua pengelompokan opinion leader berdasarkan aktif tidaknya dalam periilaku.
a. Opinion leader aktif ( opinion giving) opinion leader di sebut aktif jika ia sengaja mencari penerima atau followers untuk mengumumkan atau mensosialisasikan suatu informasi.
b. Opinion leader pasif (opinion seeking). Artinya, opinion leader dicari oleh followersnya.
2. Cara mengetahui Opinion leader
Didalam pengambilan keputusan, maka orang biasanya mencari apa yang dikenal sebagai opinion leader, atau pemimpin pendapat. Pemimpin pendapat atau opinion leader demikian adalah orang yang mempunyai pengaruh yang besar atau keputusan yang diambil oleh orang-orang disekitarnya. Bahwa seorang pemimpin pendapat memang biasanya adalah orang yang lebih tahu, disebabkan karena kedudukan (sosial) nya adalah sedemikian rupa, sehingga volume informasinya memang banyak.
Menurut Everett M Rogers (1973) setidak-tidaknya ada tiga cara mengukur atau mengetahui adanya opinion leader. 1. Metode Sosiometrik
Dalam metode ini pada masyarakat ditanyakan kepada siapa mereka meminta nasihat atau mencari informasi mengenai masalah kemasyarakatan yang dihadapinya.
2. Informants Rating
Lewat metode ini diajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu pada orang atau responden yang dianggap sebagai key informants dalam masyarakat mengenai siapa yang diaggap masyarakat sebagai pemimpin-pemimpin mereka. Dalam metode ini orang yang ingin mengetahui pemimpin masyarakat lewat responden harus jeli dalan memilih key informants dan mereka yang benar-benar dengan masyarakatlah yang selaknyalah dipilih.
3. Self Designing Method
Dengan metode ini kita dapat mengajukan pertanyaan kepada responden dan minta ditunjukkan tendensi orang lain yang dapat menunjuk siapa-siapa yang diperkirakan mempunyai pengaruh. Validitas pertanyaan ini sangat tergantung pada ketepatan (akurasi) responden untuk mengidentifikasi dirinya sebagai pemimpin.
Karakteristik Opinion Leader
1. Lebih tinggi pendidikan formalnya dibdengan anggota masyarakat lainnya.
2. lebih tinggi status sosial ekonominya. (SSE)
3. lebih inovatif dalam menerima dan mengambil ide baru
4. Lebih tinggi pengenalan medianya (media exposure)
5. Kemampuan empatinya lebih besar
6. Partisipasinya lebih besar.
7. Lebih Kosmopolit (mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas).
Fungsi opinion leader khususnya daerah pedesaan yaitu:
a. Fungsi tanggap terhadap inovasi
b. Fungsi pembinaan
c. Fungsi pengarahan
Pada suatu saat masyarakat mengalami kemajuan yang berarti, peran opinion leader lambat laun akan terkurangi. Sebab berbagai macam ciri yang dimiliki pemuka pendapat itu sudah melekat pada masyarakat desa. Misalnya, jika sebelumnya masyarakat menanyakan tentang sebuah inovasi pada pemika pendapat namun karena tingkat pendidikan dan media exposure yang lebih tinggi, banyak pemuka desa justru lebih mengetahui tentang inivasi tersebut. Dalam kondisi inilah pemimpin opini akan mengalami pergeseran peran.
3. Opinion leader dalam sistem komunikasi
Pada dasarnya, komunikasi tidak hanya penting bagi seorang pemimpin akan tetapi juga penting bagi para pengikut karena setiap tindakan, keputusan, dan arahan yang diambil atau diberikan oleh seorang pemimpin kepada pengikutnya, juga dilakukan dengan berkomunikasi. Jadi, pengikut juga harus memiliki kemampuan berkomunikasi guna lancarnya usaha dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Tak bisa di pungkiri bahwa opinion leader menjadi salah satu unsur yang sangat mempengaruhi arus komunikasi, khususnya di pedesaan. Berbagai perubahan dan kemajuan masyarakat sangat ditentukan oleh opinion leader ini. Misalnya, pemimpin opini bisa berperan memotivasi masyarakat agar ikut serta secara aktif dalam pembangunan. Untuk itulah selayaknya pemerintah memberikan perhatian khusus pada pemuka pendapat ini. Sebaliknya sikap meremehkan peran opinion leader justru merugikan, sebab program pembangunan akan banyak hambatan. Misalnya tentang kepercayaan masyarakat pada program pembangunan. Selayaknya pemerintah memfungsikan peran opinion leader dalam pembanguna masyarakat.
Disinilah peran opinion leader dalam masyarakat khususnya pedesaan dalam pembangunan pertanian dan adopsi inovasi dalam bidang pertanian. Misalnya untuk daerah padat penduduk, usaha intensifikasi tanaman pangan merupakan keharusan. Perlu diingat bahwa usaha intensifikasi mempunyai batas-batas (tidak mungkin produksi dapat ditingkatkan), sehingga pada suatu saat perluasan areal perlu pula dilaksanakan. Usaha ini yang sekarang juga sedang digalakkan oleh pemerintah adalah usaha diversifikas tanaman. Disinilah peran opinion leader untuk mempercepat perubahan inovasi di desa. Sebagaimana juga diakui oleh Everett M. Rogers dan Shoemaker bahwa orng-orang yang paling tinggi status sosialnya (termasuk masalah pendidikan) dalam sistem sosial jarang sekali berinteraksi langsung dengan orang-orang yang paling rendah status sosialnya. Hasil penelitian Van den Ban (1963) di Belanda menemukan fakta bahwa apa yang dilakukan oleh pemuka pendapat cenderung diikuti masyarakat.
4. Opinion leader di Indonesia
Sebagaimana sudah diketahui sebelumnya, kajian tentang pemimpin opini ini awalnya muncul di Amerika seperti yang ditunjukkan oleh Paul Lazarefeld dan kawan-kawan. Oleh karena itu model-model arus informasi yang mendekati pembahasan pemimpin opini ini adalah model two step flow. Asumsi dasarnya, media massa tidak langsung mengenai audience tetapi melalui pemimpin opininya. Kemudian informasi yang didapatkan tadi disampaikan kepada para pengikutnya. Pemuka pendapat yang dimaksud disini adalah seseorang yang relatif dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku orang lain untuk bertindak dalam cara tertentu.
Opinion leader dalam kehidupan politik
Pemimpin opini adalah mereka yang punya otoritas tinggi dalam menentukan sikap dan perilaku pengikutnya. Bukan dari kedudukan, jabatan politik tetapi karena kewibawaan, ketundukan, kharisma, mitos yang melekat padanya atau karena pengetahuan serta pengalaman yang dimilikinya. Sebab pada saat sekarang banyak para pemimpin politik yang hanya disanjung dengan jabatannya saja.
Megawati dan Gus Dur dianggap sebagai pemimpin opini.
1. Megawati dan Gus Dur menjadi panutan pengikutnya.
2. Mereka menentukan apa yang harus dilakukan pengikutnya.
3. Peran keduanya juga mengukuhkan bahwa media massa punya pengaruh yang kecil dalam mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakatnya.
5. Opinion leader dalam kehidupan sosial
Peranan pemimpin opini dalam kehiduan sosial di Indonesia juga tidak bisa dibilang rendah. Karena pemimpin opini sangat dipercaya dalam masyarakatnya.

statifikasi sosial

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap masyarakat senantiasa mempunyai penghargaan tertentu terhadap hal-hal tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Bahkan pada zaman kuno dahulu, filosof aristoteles (Yunani) mengatakan di dalam negara terdapat tiga unsur, yaitu mereka yang sekali, yang melarat, dan yang berada di tengah-tengahnya. Ucapan demikian sedikit banyak membuktikan bahwa di zaman itu, dan sebelumnya, orang yang telah mengakui adanya lapisan masyarakat yang mempunyai kedudukan bertingkat-tingkat dari bawah ke atas.
Seseorang sosiolog terkemuka yaitu Pitirim A. Sorokin , pernah mengatakan bahwa sistem lapisan merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur. Biasanya golongan yang berada dalam lapisan atasan tidak hanya memiliki satu macam saja dan apa yang dihargai oleh masyarakat, kedudukanya yag tinggi itu bersifat komulatif. Sisem lapisan dalam masyarakat tersebut, dalam sosiologi di kenal dengan istilah Sosial Statification. Kata stratification berasal dari stratum ( jamaknya srata yang berarti lapisan. Pitirim A. Sorokim mengatakan bahwa sosial sratification adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas ecara bertingkat (hirarkis). Perwujudannya adalah kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. Selanjutya menurut Sorokin , dasar dan inti lapisan masyarakat idak adanya keseimbangan dalam pembagian hak dan kewajiban,kewajiban dan tanggung jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya di antara anggota-anggota masyarakat.
Di dalam masyarakat yang sudah kompleks, pembedaan kedudukan dan peranan juga bersifat kompleks karena banyaknya orang dan aneka warna ukuran yang dapat diterapkan terhadapnya. Bentuk-bentuk lapisan kongkrit masyarakat tersebut banyak. Akan tetapi secara prinsipil bentuk-bentuk tersebut dapat di klarifikasikan ke dalam tiga macam kelas, yaitu yang ekonomis, politis, dan yang di dasarkan pada jabatan-jabatan tertentu dalam masyarakat. Umumya, ketiga bentuk pokok tadi mempunyai hubungan yang erat satu dengan lainnya, di mana sering terjadi pengaruh-mempengarui.
Misalnya , mereka yang termasuk kedalam suatu lapisan atas dasar ukuran politis, biasanya juga merupakan orang-orang yang memduduki suatu lapisan tertentu atas dasar ekonomis. Demikian pula mereka yang kaya, biasanya menempati jabatan-jabatan yang senantiasa penting. Akan tetapi, tidak semua demikian keadaanya . Hal itu semuanya tergantung pada sistem nilai yng berlaku serta berkembang dalam masyarakat bersangkutan.

B. Rumusan Masalah
1.Bagaimanakah terjadinya sratfikasi sosial ?
2.Apa peran statifikasi sosial?
3.Apa saja fungsi Stratifikasi sosial?

BAB III
PEMBAHASAN
A. Terjadinya Statifikasi sosial
Stratifikasi merupakan hasil kebiasaan hubungan antar manusia secara teratur dan tersusun, sehingga setiap orang , setiap saat mempunyai situasi yang menentukan hubungannya dengan orang lain secara vertikal maupun mendatar dalam masyarakatnya. Dengan demikian, peranan yang diambil oleh orang dalam masyarakatnya ditentukan oleh situasi kelompok. F. Znanieckiberpendapat bahwa situasi dapat ditinjau dari dua segi yaitu dari segi subyekif maupun obyektif. Subyektif yaitu menilai pibadi, sesuai interpretasi dan konsep diri. Sedankan obyektif adalah penilaian oleh masyarakat yang ditentukan oleh fakor kebudayaan.
Kenyataan bahwa manusia menurut F. Znaniecki mempunyai dua segi kehidupan, yaitu segi publik life /kehidupan publik maupun kehidupan pribadi, merupakan ciri yang membedakan manusia dari binatang. Jadi masyarakat modern akan memperlihatkan kecenderungan menuju ke stratifikasi yang lebih banyak lagi, karena dasar dari sratifikasi adalah pembagian pekerjaan, yaitu spesialisasi dan diversifikasi pekerjaan.
Dasar pembentukan sratifikasi ialah bahwa manusia mempuyai kecenderungan untuk menilai suatu pekerjaan.
Sifat sistem lapisan di dalam suatu masyarakat dapat bersifat tertutup (closed social stratification) dan terbuka ( open sosial sratification). Yang bersifat tertutup, membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan yang lain. Pembentukan lapisan-lapisan dalam masyarakat sekaligus merupakan proses pembentukan struktur sosial dalam membahas stratifikasi biasanya di adakan perbedaan antara sistem lapisan dan sistem kelas atau kasta.
Sistem tertutup jelas terlihat pada masyarakat India yang berkasta. Atau di dalam masyarakat yang feodal, atau masyarakat dimana lapisannya tergantung pada perbedaan-perbedaan rasial. Apabila ditelaah pada masyarakat India, sistem lapisan dimana sangat kaku dan menjelma dalam diri kasta-kasta. Sistem kasta di India telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Istilah untuk kasta dalam bahasa India adalah yati, sedangkan sistemnya disebut varna. Menurut kitab Reg veda dan kitab-kitab brahmana, dalam masyarakat India kuno dijumpai empat warna yang tersusun dari atas kebawah. Masing-masing adalah kasta Brahmana, Ksartia, Vaicya dan Sudra.
Sistem lapisan yang tertutup, dalam batas-batas tertentu, juga dijumpai pada masyarakat Bali. Menurut kitab-kitab suci orang Bali, masyarakat terbagi dalam empat lapisan , yaitu Brahmana, Satria, Vesia, dan Sudra. Ketiga lapisan pertama biasa disebut triwangsa sedangkan lapisan terakhir disebut jaba yang merupakan lapisan dengan jumlah warna terbanyak.
Sistem pelapisan yang jalan masuk menjadi anggota atau warga suatu pelapisan tertentu hanyalah melalui kelahiran. Contoh Pelapisan pada masyarakat berkasta, pada masyarakat dengan sistem feodal, atau pada masyarakat yang masih menggunakan kriteria sebagai dasar pelapisan sosialnya.
Gambar :
B. Stratifikasi Terbuka
Setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk naik ke pelapisan sosial yang lebih tinggi karena kemampuan dan kecakapannya sendiri, atau turun ke pelapisan sosial yang lebih rendah bagi mereka yang tidak cakap dan tidak beruntung.

Contoh Masyarakat di negara industri maju atau masyarakat pertanian yang telah mengalami gelombang modernisasi.
Gambar :
C.Stratifikasi Campuran
Stratifikasi gabungan antara stratifikasi terbuka dan tertutup.
Contoh Kehidupan masyarakat Bali, walaupun budaya masyarakatnya tertutup, tetapi secara ekonomi sistem pelapisan sosialnya bersifat terbuka.
Gambar :

B. Kelas-kelas dalam Masyarakat
Walaupun pada hakikatnya mewujudkan sistem kedudukan-kedudukan yang pokok daam masyarakat disebut kelas sosial. Artinya, semua orang dan keluarga yang sadar akan kedudukan mereka itu diketahui dan diakui oleh masyarakat umum. Dengan demikian maka kelas adalah pararel dengan dengan pengertian lapisan tanpa membedakan apakah dasar lapisan itu faktor uang, tanah, kekuasaan atau dasar lainnya.
Disamping itu, Max weber masih menyebutkan adanya golongan yang mendapat kehormatan khusus dari masyarakat dinaman stand .Joseph Schumpeter mengatakan bahwa terbentuknya kelas kelas dalam masyarakat adalah karena diperlukan untuk menyesuaikan masyarakat dengan keperluan yang nyata. Misalnya di Inggris, ada istilah-istilah tertentu seperti commoners bagi orang biasa serta nobility bagi bangsawan. Lapisan yang demikian, yaitu orang yang ditegaskan dengan sistem hak dan kewajiban tertentu bagi warganya, dinamakan estate. Estate tersebut oleh masyarakat seolah olah elah diresmikan terbentuknya, berbeda dengan lapisan tak resmi yang didasarkan pada kekuasaan, kekayaan dan selanjutnya.

C. Dasar Lapisan Masyarakat
Diantara lapisan antaradengan yang terendah, terdapat lapisanyang jumlahnya relatif banyak.Ukuran atau kriteria yang biasa dipakai untuk menggolong-golongkan anggota-anggota masyarakat ke dalam satu apisan adalah sebagai berikut :
1. Ukuran kekayaan.
2. Ukuran kekuasaan
3. Ukuran kehormatan
4. Ukuran ilmu pengetahuan
Ukuran di atas tidaklah bersifat limitatif, karena masih ada ukuran-ukuran lain yang dapat digunakan . lapisan atasan masyarakat tertentu, dalam istilah sehari-hari juga dinamakan ”Elite”. Jadi disini yang pokok adalah nilai anggota, dan biasanya lapisan atasan merupakan golongan kecil dalam masyarakat yang mengendalikan masyarakat tersebut. Keka\yaan dapat dijumpai pada setiap masyarakat , dan dianggap sebagai hal yang wajar. Walaupun kadang tidak disukai oleh lapisan – lapisan lainnya apabila pengendaliannya tidak sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat umumnya.
D. Unsur-unsur lapisan Masyarakat
Hal yang mewujudkan unsur dalam teori sosiolgi tentang sistem lapisan masyarakat adalah kedudukan dan peranan. Kedudukan dan peranan merupakan unsur-unsur baku dalam sistem lapisan, dan mempunyai arti yang penting bagi sistem sosial. Sistem sosial adalah pola-pola yang mengatur hubungan timbal balik antar individu dalam masyarakat dan antara individu dengan masyarakat, dan tingkah laku individu-individu tersebut.
E. Kedudukan atau Status
Masyarakat pada umumnya mengembangkan dua macam kedudukan yaitu:
a. Ascribed Statuse yaitu kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan kedudukan tersebut diperoleh karena kelahiran.
b. Achieved Status adalah kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha-usaha yang di sengaja. Kedudukan ini tidak di peroleh atas dasar kelahiran.
Peranan mungkin mencakup tiga hal yaitu:
a. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.
b. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi
Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.
F. Peranan
Pembahasan perihal aneka macam peranan yang melekat pada individu dalam masyarakat penting karena hal-hal sebagai berikut:
a. Peranan-peranan tertentu harus dilaksanakan apabila struktur masyarakat hendak dipertahankan kelangsungannya.
b. Peranan-peranan setogyanya dilekatkan pada individu-individu yang oleh masyarakat dianggap mampu untuk melaksanakannya.Mereka harus telah terlatih dan mempunyai hasrat untuk melaksanakannya.
c. Dalam masyarakat kadang-kadang dijumpai individu yang tak mampu melaksanakan peranannya sesuai dengan yang diharapkan masyarakat, karena mungkin pelaksanaannya memerlukan pengorbanan kepentingan-kepentingan pribadinya yang terlalu banyak.
d. Apabila semua orang sanggup dan mampu melaksanakan peranannya, belum tentu masyarakat akan dapat memberikan peluang-peluang yang seimbang. Bahkan seringkali terlihat betapa masyarakat terpaksa membatasi peluang-peluang tersebut.

G. Lapisan yang Sengaja Disusun
Secara panjang lebar diuraikan oleh F. Barnarddalam karangannya yang berjudul The Functions of Status System. Sistem kedudukan dalam organisasi formal timbul karena perbedaan kebutuhan, kepentingan, dan kemampuan individu yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Perbedaan kemampuan individu.
2. Perbedaan yang menyangkut kesukaran-kesukaran untuk melakukan bermacam-macam jenis pekerjaan.
3. Perbedaan kepentingan masing-masing jenis pekerjaan.
4. Keinginan pada kedudukan yang formal sebagai alat sosial atau alat organisasi.
5. Kebutuhan akan perlindungan bagi seseorang.

BAB III
Penutup
A. Kesimpulan
Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hierarkis).
Dua tipe sistem lapisan sosial, yaitu:
1. Dapat terjadi dengan sendirinya.
2. Sengaja disusun untuk mengejar tujuan bersama.
Kelas sosial adalah semua orang dan keluarga yang sadar akan kedudukannya di dalam suatu lapisan, sedangkan kedudukan mereka itu diketahui serta diakui oleh masyarakat umum.
Ukuran yang dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan adalah:
1.ukuran kekayaan (materill)
2. ukuran kekuasaan
3. ukuran kehormatan; dan
4.ukuran ilmu pengetahuan
Unsur- unsur baku dalam sistem lapisan sosial dalam masyarakat adalah sebagai berikut:
1. Kedudukan. Kedudukan di kembangkan lagi dalam masyarakat, yaitu
a. Ascribed status
b. Achieved status
2. Peranan(role) merupakan aspek dinamis dari kedudukan.
Gerak sosial adalah gerak dalam struktur, yait pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial.

B. Saran
Pembahasan statifikasi sosial dalam makalah yang saya susun sangat terbatas oleh karena itu, pembaca hendaknya mencari referensi yang lain untuk melengkapi informasi tentang stratifikasi sosial. Dan penulis makalah senantiasa menunggu saran dari para pembaca, terutama dari dosen pengampu mata kuliah sosiologi. Ilmu yang tujuannya untuk perbaikan penyusunan makalah selanjutnya agar menjadi lebih baik lagi.
Daftar pustaka
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Soekanto, Soerjono.1982. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakara:Rajawali Pers
http://biancahaiti.blogspot.com/2012/03/makalah-sosiologi-stratifikasi-sosial.html diakses tanggal 23 maret 2014