biografi gus mus

Kyai Mustofa Bisri(Gus Mus)
Lahir : Rembang, 10 Agustus 1944
Agama : Islam
Jabatan: Pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah
Istri: Siti Fatimah
Anak:
1. Ienas Tsuroiya
2. Kautsar Uzmut
3. Randloh Quds
4. Rabitul Bisriyah
5. Nada
6. Almas
7. Muhammad Bisri Mustofa
Ayah : Mustofa Bisri
Ibu : Marafah Cholil
Pendidikan :
– Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri
– Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta
– Raudlatuh Tholibin, Rembang
– Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir
Karya Tulis Buku:
– Dasar-dasar Islam (terjemahan, Abdillah Putra Kendal, 1401 H);
– Ensklopedi Ijma’ (terjemahan bersama KH. M.A. Sahal Mahfudh, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987);
– Nyamuk-Nyamuk Perkasa dan Awas, Manusia (gubahan cerita anak-anak, Gaya Favorit Press Jakarta, 1979);
– Kimiya-us Sa’aadah (terjemahan bahasa Jawa, Assegaf Surabaya);
– Syair Asmaul Husna (bahasa Jawa, Penerbit Al-Huda Temanggung);
– Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1991,1994);
– Tadarus, Antalogi Puisi (Prima Pustaka Yogya, 1993);
– Mutiara-Mutiara Benjol (Lembaga Studi Filsafat Islam Yogya, 1994);
– Rubaiyat Angin dan Rumput (Majalah Humor dan PT. Matra Media, Cetakan II, Jakarta, 1995);
– Pahlawan dan Tikus (kumpulan puisi, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996);
– Mahakiai Hasyim Asy’ari (terjemahan, Kurnia Kalam Semesta Yogya, 1996);
– Metode Tasawuf Al-Ghazali (tejemahan dan komentar, Pelita Dunia Surabaya, 1996);
– Saleh Ritual Saleh Sosial (Mizan, Bandung, Cetakan II, September 1995);
– Pesan Islam Sehari-hari (Risalah Gusti, Surabaya, 1997);
– Al-Muna (Syair Asmaul Husna, Bahasa Jawa, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, 1997);
– Fikih Keseharian (Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, bersama Penerbit Al-Miftah, Surabaya, Juli 1997)
Organisasi:
Mantan Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) periode 1994-1999 dan 1999-2004
Gus Mus Sang Kiyai Pembelajar
Kiyai, penyair, novelis, pelukis, budayawan dan cendekiawan muslim, ini telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama. Ia kiyai yang bersahaja, bukan kiyai yang ambisius. Ia kiyai pembelajar bagi para ulama dan umat. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, ini enggan (menolak) dicalonkan menjadi Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama dalam Muktamar NU ke-31 28/11-2/12-2004 di Boyolali, Jawa Tengah.
KH Achmad Mustofa Bisri, akrab dipanggil Gus Mus, ini mempunyai prinsip harus bisa mengukur diri. Setiap hendak memasuki lembaga apapun, ia selalu terlebih dahulu mengukur diri. Itulah yang dilakoninya ketika Gus Dur mencalonkannya dalam pemilihan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama pada Muktamar NU ke-31 itu.
Saya harus bisa mengukur diri sendiri. Mungkin lebih baik saya tetap berada di luar, memberikan masukan dan kritikan dengan cara saya, jelas alumnus Al Azhar University, Kairo (Mesir), ini, yang ketika kuliah mempunyai hobi main sepakbola dan bulutangkis. Setelah tak lagi punya waktu meneruskan hobi lamanya, ulama ini lalu menekuni hobi membaca buku sastra dan budaya, menulis dan memasak, termasuk masak makanan Arab dengan bumbu tambahan.
Lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944, dari keluarga santri. Kakeknya, Kyai Mustofa Bisri adalah seorang ulama. Demikian pula ayahnya, KH Bisri Mustofa, yang tahun 1941 mendirikan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, adalah seorang ulama karismatik termasyur.
Ia dididik orangtuanya dengan keras apalagi jika menyangkut prinsip-prinsip agama. Namun, pendidikan dasar dan menengahnya terbilang kacau. Setamat sekolah dasar tahun 1956, ia melanjut ke sekolah tsanawiyah. Baru setahun di tsanawiyah, ia keluar, lalu masuk Pesantren Lirboyo, Kediri selama dua tahun. Kemudian pindah lagi ke Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Di Yogyakarta, ia diasuh oleh KH Ali Maksum selama hampur tiga tahun. Ia lalu kembali ke Rembang untuk mengaji langsung diasuh ayahnya.
KH Ali Maksum dan ayahnya KH Bisri Mustofa adalah guru yang paling banyak mempengaruhi perjalanan hidupnya. Kedua kiyai itu memberikan kebebasan kepada para santri untuk mengembangkan bakat seni.
Kemudian tahun 1964, dia dikirim ke Kairo, Mesir, belajar di Universitas Al-Azhar, mengambil jurusan studi keislaman dan bahasa Arab, hingga tamat tahun 1970. Ia satu angkatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Menikah dengan Siti Fatimah, ia dikaruniai tujuh orang anak, enam di antaranya perempuan. Anak lelaki satu-satunya adalah si bungsu Mochamad Bisri Mustofa, yang lebih memilih tinggal di Madura dan menjadi santri di sana. Kakek dari empat cucu ini sehari-hari tinggal di lingkungan pondok hanya bersama istri dan anak keenamnya Almas.
Setelah abangnya KH Cholil Bisri meninggal dunia, ia sendiri memimpin dan mengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, didampingi putra Cholil Bisri. Pondok yang terletak di Desa Leteh, Kecamatan Rembang Kota, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, 115 kilometer arah timur Kota Semarang, itu sudah berdiri sejak tahun 1941
Keluarga Mustofa Bisri menempati sebuah rumah kuno wakaf yang tampak sederhana tapi asri, terletak di kawasan pondok. Ia biasa menerima tamu di ruang seluas 5 x 12 meter berkarpet hijau dan berisi satu set kursi tamu rotan yang usang dan sofa cokelat. Ruangan tamu ini sering pula menjadi tempat mengajar santrinya.
Pintu ruang depan rumah terbuka selama 24 jam bagi siapa saja. Para tamu yang datang ke rumah lewat tengah malam bisa langsung tidur-tiduran di karpet, tanpa harus membangunkan penghuninya. Dan bila subuh tiba, keluarga Gus Mus akan menyapa mereka dengan ramah. Sebagai rumah wakaf, Gus Mus yang rambutnya sudah memutih berprinsip, siapapun boleh tinggal di situ.
Di luar kegiatan rutin sebagai ulama, dia juga seorang budayawan, pelukis dan penulis. Dia telah menulis belasan buku fiksi dan nonfiksi. Justru melalui karya budayanyalah, Gus Mus sering kali menunjukkan sikap kritisnya terhadap budaya yang berkembang dalam masyarakat. Tahun 2003, misalnya, ketika goyang ngebor pedangdut Inul Daratista menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat, Gus Mus justru memamerkan lukisannya yang berjudul Berdzikir Bersama Inul. Begitulah cara Gus Mus mendorong perbaikan budaya yang berkembang saat itu.
Bakat lukis Gus Mus terasah sejak masa remaja, saat mondok di Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Ia sering keluyuran ke rumah-rumah pelukis. Salah satunya bertandang ke rumah sang maestro seni lukis Indonesia, Affandi. Ia seringkali menyaksikan langsung bagaimana Affandi melukis. Sehingga setiap kali ada waktu luang, dalam bantinnya sering muncul dorongan menggambar. Saya ambil spidol, pena, atau cat air untuk corat-coret. Tapi kumat-kumatan, kadang-kadang, dan tidak pernah serius, kata Gus Mus, perokok berat yang sehari-hari menghabiskan dua setengah bungkus rokok.
Gus Mus, pada akhir tahun 1998, pernah memamerkan sebanyak 99 lukisan amplop, ditambah 10 lukisan bebas dan 15 kaligrafi, digelar di Gedung Pameran Seni Rupa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Kurator seni rupa, Jim Supangkat, menyebutkan, kekuatan ekspresi Mustofa Bisri terdapat pada garis grafis. Kesannya ritmik menuju zikir membuat lukisannya beda dengan kaligrafi. Sebagian besar kaligrafi yang ada terkesan tulisan yang diindah-indahkan, kata Jim Supangkat, memberi apresiasi kepada Gus Mus yang pernah beberapa kali melakukan pameran lukisan.

Sedangkan dengan puisi, Gus Mus mulai mengakrabinya saat belajar di Kairo, Mesir. Ketika itu Perhimpunan Pelajar Indonesia di Mesir membikin majalah. Salah satu pengasuh majalah adalah Gus Dur. Setiap kali ada halaman kosong, Mustofa Bisgus musri diminta mengisi dengan puisi-puisi karyanya. Karena Gus Dur juga tahu Mustofa bisa melukis, maka, ia diminta bikin lukisan juga sehingga jadilah coret-coretan, atau kartun, atau apa saja, yang penting ada gambar pengisi halaman kosong. Sejak itu, Mustofa hanya menyimpan puisi karyanya di rak buku.
Namun adalah Gus Dur pula yang mengembalikan Gus Mus ke habitat perpuisian. Pada tahun 1987, ketika menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Gus Dur membuat acara Malam Palestina. Salah satu mata acara adalah pembacaan puisi karya para penyair Timur Tengah. Selain pembacaan puisi terjemahan, juga dilakukan pembacaan puisi aslinya. Mustofa, yang fasih berbahasa Arab dan Inggris, mendapat tugas membaca karya penyair Timur Tengah dalam bahasa aslinya. Sejak itulah Gus Mus mulai bergaul dengan para penyair.
Sejak Gus Mus tampil di Taman Ismail Marzuki, itu kepenyairannya mulai diperhitungkan di kancah perpuisian nasional. Undangan membaca puisi mengalir dari berbagai kota. Bahkan ia juga diundang ke Malaysia, Irak, Mesir, dan beberapa negara Arab lainnya untuk berdiskusi masalah kesenian dan membaca puisi. Berbagai negeri telah didatangi kyai yang ketika muda pernah punya keinginan aneh, yakni salaman dengan Menteri Agama dan menyampaikan salam dari orang-orang di kampungnya. Untuk maksud tersebut ia berkali-kali datang ke kantor sang menteri. Datang pertama kali, ditolak, kedua kali juga ditolak. Setelah satu bulan, ia diizinkan ketemu menteri walau hanya tiga menit.
Kyai bertubuh kurus berkacamata minus ini telah melahirkan ratusan sajak yang dihimpun dalam lima buku kumpulan puisi: Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (1988), Tadarus Antologi Puisi (1990), Pahlawan dan Tikus (1993), Rubaiyat Angin dan Rumput (1994), dan Wekwekwek (1995). Selain itu ia juga menulis prosa yang dihimpun dalam buku Nyamuk Yang Perkasa dan Awas Manusia (1990).
Tentang kepenyairan Gus Mus, Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri menilai, gaya pengucapan puisi Mustofa tidak berbunga-bunga, sajak-sajaknya tidak berupaya bercantik-cantik dalam gaya pengucapan. Tapi lewat kewajaran dan kesederhanaan berucap atau berbahasa, yang tumbuh dari ketidakinginan untuk mengada-ada. Bahasanya langsung, gamblang, tapi tidak menjadikan puisinya tawar atau klise. Sebagai penyair, ia bukan penjaga taman kata-kata. Ia penjaga dan pendamba kearifan, kata Sutardji.
Kerap memberi ceramah dan tampil di mimbar seminar adalah lumrah bagi Gus Mus. Yang menarik, pernah dalam sebuah ceramah, hadirin meminta sang kiai membacakan puisi. Suasana hening. Gus Mus lalu beraksi: Tuhan, kami sangat sibuk. Sudah.
Sebagai cendekiawan muslim, Gus Mus mengamalkan ilmu yang didapat dengan cara menulis beberapa buku keagamaan. Ia termasuk produktif menulis buku yang berbeda dengan buku para kyai di pesantren. Tahun 1979, ia bersama KH M. Sahal Mahfudz menerjemahkan buku ensiklopedia ijmak. Ia juga menyusun buku tasawuf berjudul Proses Kebahagiaan (1981). Selain itu, ia menyusun tiga buku tentang fikih yakni Pokok-Pokok Agama (1985), Saleh Ritual, Saleh Sosial (1990), dan Pesan Islam Sehari-hari (1992).
Ia lalu menerbitkan buku tentang humor dan esai, Doaku untuk Indonesia? dan Ha Ha Hi Hi Anak Indonesia. Buku yang berisi kumpulan humor sejak zaman Rasullah dan cerita-cerita lucu Indonesia. Menulis kolom di media massa sudah dimulainya sejak muda. Awalnya, hatinya panas jika tulisan kakaknya, Cholil Bisri, dimuat media koran lokal dan guntingan korannya ditempel di tembok. Ia pun tergerak untuk menulis. Jika dimuat, guntingan korannya ditempel menutupi guntingan tulisan sang kakak. Gus Mus juga rajin membuat catatan harian.
Seperti kebanyakan kyai lainnya, Mustofa banyak menghabiskan waktu untuk aktif berorganisasi, seperti di NU. Tahun 1970, sepulang belajar dari Mesir, ia menjadi salah satu pengurus NU Cabang Kabupaten Rembang. Kemudian, tahun 1977, ia menduduki jabatan Mustasyar, semacam Dewan Penasihat NU Wilayah Jawa Tengah. Pada Muktamar NU di Cipasung, Jawa Barat, tahun 1994, ia dipercaya menjadi Rais Syuriah PB NU.
Kesederhanaannya telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama. Ia didorong-dorong oleh Gus Dur dan kawan-kawan dari kelompok NU kultural, untuk mau mencalonkan diri sebagai calon ketua umum PB NU pada Muktamar NU ke-31 tahun 2004, di Boyolali, Jawa Tengah. Tujuannya, untuk menandingi dan menghentikan langkah maju KH Hasyim Muzadi dari kelompok NU struktural. Kawan karib Gus Dur selama belajar di Kairo, Mesir, ini dianggap salah satu ulama yang berpotensi menghentikan laju ketua umum lama. Namun Gus Mus justru bersikukuh menolak.
Alhasil, Hasyim Muzadi mantan calon wakil presiden berpasangan dengan calon presiden Megawati Soekarnoputri dari PDI Perjuangan, pada Pemilu Preisden 2004, itu terpilih kembali sebagai Ketua Dewan Tanfidziah berpasangan dengan KH Achmad Sahal Makhfud sebagai Rois Aam Dewan Syuriah PB NU. Muktamar berhasil meninggalkan catatan tersendiri bagi KH Achmad Mustofa Bisri, yakni ia berhasil menolak keinginan kuat Gus Dur, ulama kontroversial.
Ternyata langkah seperti itu bukan kali pertama dilakukannya. Jika tidak merasa cocok berada di suatu lembaga, dia dengan elegan menarik diri. Sebagai misal, kendati pernah tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah tahun 1987-1992, mewakili PPP, demikian pula pernah sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), mantan Rois Syuriah PB NU periode 1994-1999 dan 1999-2004 ini tidak pernah mau dicalonkan untuk menjabat kembali di kedua lembaga tersebut. Lalu, ketika NU ramai-ramai mendirikan partai PKB, ia tetap tak mau turun gelanggang politik apalagi terlibat aktif di dalamnya.
Demikian pula dalam Pemilu Legislatif 2004, meski namanya sudah ditetapkan sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Jawa Tengah, ia lalu memilih mengundurkan diri sebelum pemilihan itu sendiri digelar. Ia merasa dirinya bukan orang yang tepat untuk memasuki bidang pemerintahan. Ia merasa, dengan menjadi wakil rakyat, ternyata apa yang diberikannya tidak sebanding dengan yang diberikan oleh rakyat. Selama saya menjadi anggota DPRD, sering terjadi pertikaian di dalam batin saya, karena sebagai wakil rakyat, yang menerima lebih banyak dibandingkan dengan apa yang bisa saya berikan kepada rakyat Jawa Tengah, kata Mustofa mengenang pengalaman dan pertentangan batin yang dia alami selama menjadi politisi.
Dicalonkan menjadi ketua umum PB NU sudah seringkali dialami Gus Mus. Dalam beberapa kali mukhtamar, namanya selalu saja dicuatkan ke permukaan. Ia adalah langganan “calon ketua umum” dan bersamaan itu ia selalu pula menolak. Di Boyolali 2004 namanya digandang-gandang sebagai calon ketua umum. Bahkan dikabarkan para kyai sepuh telah meminta kesediaannya. Sampai-sampai utusan kyai sepuh menemui ibunya, Marafah Cholil, agar mengizinkan anaknya dicalonkan. Sang ibu malah hanya menjawab lugas khas warga ulama NU, Mustofa itu tak jadi Ketua Umum PB NU saja sudah tak pernah di rumah, apalagi kalau menjadi ketua umum. Nanti saya tak pernah ketemu.
Gus Mus sendiri yang tampak enggan dicalonkan, dengan tangkas menyebutkan, Saya mempunyai hak prerogatif untuk menolak, ucap pria bertutur kata lembut yang sesungguhnya berkawan karib dengan Gus Dur selama belajar di Kairo, Mesir. Saking karibnya, Gus Mus pernah meminta makan kepada Gus Dur selama berbulan-bulan sebab beasiswanya belum turun-turun. Persahabatan terus berlanjut sampai sekarang. Kalau Gus Dur melawat ke Jawa Timur dan singgah di Rembang, biasanya mampir ke rumah Gus Mus. Sebaliknya, bila dia berkunjung ke Jakarta, sebisa-bisanya bertandang ke rumah Gus Dur. Selain saling kunjung, mereka tak jarang pula berkomunikasi melalui telepon.***

Iklan

akidah akhlak

A. Definisi As sunnah

Sunnah (سنه) secara etimologi berarti jalan yang bisa dilalui.

Menurut bahasa, As-Sunnah berarti ‘perjalanan’, dalam konteks baik ataupun buruk. Khalid bin Utbah Al-Hadzali berkata :
“Janganlah engkau berhenti dari suatu perjalanan yang telah engkau lakukan. Orang yang pertama kali merasa senang terhadap suatu perjalanan adalah orang yang melakukannya.”
Dalam suatu Hadits, Rasulullah S.A.W bersabda :
“Barang siapa melakukan buat sunnah (perjalanan perbuatan) yang baik maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya, dan barang siapa melakukan suatu Sunnah (perjalanan, perbuatan) yang buruk . . . . .” maka baginya siksa siksaan orang yang mengerjakan sampai hari kiamat.
Dalam Al Qur’an kata sunnah dalam 16 tempat yang tersebar dalam beberapa surat dengan arti “kebiasaan yang berlaku” dan jaan yang diikuti. Contoh Firman Allah surat Ali ‘Imron (3):137. Dan Al-Isra’ (17):77

As-Sunnah Menurut Syara’
1. AS-Sunnah menurut Ulama Hadits ( Muhaditsun )
As-Sunnah adalah “ segala yang dinukil dari Nabi S.A.W, berupa ucapan, perbuatan, taqrir,sifat, baik sifat fisik atau akhlak, atau tingkah laku diangkat sebagai rasul ( misalnya tahannuts beliau di gua hira ) atau masa sesudahnya.” As-Sunnah dengan pengertian ini sama dengan hadits nabi S.A.W.
2. As-Sunnah menurut Ulama Ushul Fikih ( Ushulliyyun )
As-Sunnah adalah “ segala yang bersumber dari nabi saw, selain Al-Qur’an Al-Karim, yaitu ucapan, perbuatan atau taqrir beliau, yang semuanya dapat menjadi dalil hukum syara’.”
3. As-Sunnah menurut Ulama Fikih ( Fuqaha )
As-Sunnah adalah segala yang tetap ( bersumber ) dari Nabi saw yang tidak termasuk dalam bab fardu dan tidak pula wajib. Maka, As-Sunnah berarti “ jalan yang diikuti dalam agama, yang bukan fardu dan bukan pula wajib.”
B. Bukti khujjahan mengenai as sunnah

Dalam firman Allah surat Ali Imron 3:31
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dalam surat Al ahzab 33:21
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Dalam surat An nisa 4:59
”Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” .

C. Hubungan sunnah dengan al-Qur’an
Sunnah berfungsi sebagai penjelas terhadap Al-Qur’an hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an, sunnah kadang-kadang memperluas hukum dalam Al-Qur’an atau menetapkan sendiri hukum diluar apa yang ditentukan Allah dalam Al-Qur’an. Kedudukan Al-Quran sebagai Bayani atau menjalanan fungsi yang menjelaskan hukum Al-Qura’an, tidak diragukan lagi dan dapat diterima oleh semua pihak, karena memang untuk itulah Nabi ditugaskan Allah SWT.
Jumhur ulama berpendapat bahwa sunnah berkedudukan sebagai sumber atau dalil kedua sesudah Al-Qur’an dan mempunyai kekuatan untuk ditaati serta mengikat untuk semua umat Islam. Kkuatan sunnah sebagai sumber hukum ditentukan oleh dua segi yaitu segi kebenaran menerimanya dan segi kekuatan penunjukannya terhadap hukum.
Dapat disimpulkan maka fungsi as Sunnah adalah:
Bayan Tafsir,
yaitu menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal dan musytarak.
Bayan Taqrir
yaitu As-Sunnah berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan al-Qur’an
Bayan Taudhih
yaitu menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat al-Qur’an
D. Kategori sunnah dari sisi sanad dan perowinya
Ada banyak model pengklasifikasian al-sunnah, sebagaimana terungkap dalam disiplin ilmu teori hadits (mushthalah al-hadîts). Namun, fokus pembahasan kali ini diarahkan pada pembagian al-sunnah dari sisi sanad (transmisi) periwayatannya, dan beberapa hal berkaitan dengan aktivitas penggalian hukum.
Menurut mayoritas ulama’, dari segi sanadnya, al-sunnah terbagi dalam dua klasifikasi, sunnah mutawâtirah dan sunnah âhâd. Sementara kalangan Hanafiyyah mengklasifikasikan al-sunnah dalam tiga kategori. sunnah mutawâtirah, sunnah masyhûrah dan sunnah âhâd. Perbedaan teori klasifikasi ini, menurut Mushthafa Syalbi, tidak hanya sekedar dalam tataran istilah, tetapi ada konsekwensi tersendiri di balik perbedaan ini, yang tidak jarang hingga memunculkan perbedaan pendapat dalam tataran sintesa hukum fiqhiyyah
Berikut ini pemaparan dari definisi dan posisi masing-masing kategori:
1. Sunnah mutawâtirah
Secara literal, mutawâtir berarti al-tatâbu’ (berurutan). Sebagaimana pengertian ini adalah firman Allah:
ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَا (المؤمنون 44)
Artinya: Kemudian kami mengutus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berurut-urut. (QS: Al-Mu’minun ayat 44).
. 2. Sunnah Masyhûrah
Adalah sunnah yang pada permulaannya diriwayatkan oleh tiga, dua bahkan seorang sahabat, kemudian pada kurun pasca-shahabat mengalami penyebaran sehingga teriwayatkan oleh sekelompok orang yang menurut penilaian akal tidak mungkin mereka bersepakat untuk melakukan kebohongan. Secara singkat diungkapkan, bahwa hadits masyhur adalah hadits yang pada generasi awal teriwayatkan secara âhâd, kemudian pada dua kurun setelahnya teriwayatkan secara mutawâtir.
3.Sunnah Âhâd
Para ulama’ berselisih pendapat dalam mendefinisikan sunnah âhâd sesuai dengan perspektif masing- masing. Menurut mayoritas ulama’, sunnah âhâd adalah sunnah yang pada fase-fase periwayatannya hanya melibatkan orang per orang perawi dengan periwayat tidak sampai mencapai batas mutawâtir
E. Status hukum qoth’i ataukah zhonni
Qothi dan zhonni
Secara bahasa yang dimaksud dengan qath’i adalah putus, pasti, atau diam.
Akan tetapi ke-qath’i-an tersebut lahir dari gabungan sejumlah dalil yang secara bersama-sama mendukung penunjukkan kepada makna (ad-dalalah) yang pasti. Rukun Islam yang ada 5 (lima) itu misalnya adalah qath’i, dan ke-qath’i-annya diperoleh dengan cara demikian. Kewajiban shalat misalnya tidak semata-mata ditunjukkan oleh perintah di dalam firman Allah SWT:
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang ruku’
(QS. al-Baqarah: 43).
Bersamaan inilah yang membuat Firman Allah SWT menjadi wajib dan membuat hukum wajib tersebut adalh Qoth’i
Secara bahasa yang dimaksud dengan Zhonni adalah perkiraan, sangkaan (antara benar dan salah). Menurut asy-Syatibi, Dalil Zhonni ini dibagi dalam 3 (tiga) kategori:
Pertama, Dalil Zhonni yang dinaungi oleh suatu prinsip universal yang qath’i (Ashl Qath’i). Prinsip ini disimpulkan dalil sejumlah dalil juz’i atau kasus-kasus detail, seperti larangan bertindak merugikan dan berbuat madharat terhadap istri (QS. at-Thalaq, [65]: 6), terhadap mantan istri yang dirujuk.
Kedua, Dalil Zhonni yang bertentangan dengan suatu prinsip yang qath ‘i
Ketiga, Dalil Zhonni yang tidak bertentangan dengan suatu prinsip yang qath’i, tetapi tidak pula dinaungi oleh suatu prinsip yang qath’i.

F. Ucapan, timgkah laku, perbuatan Nabi yang tidak menjadi sumber hukum
a. Ucapan Nabi (sunnah Qouliyah)
“ siapa yang tidak sholat karena tertidur atau karena ia lupa, hendaklah ia mengerjakan sholat itu ketika
Ia telah ingat.’’
b. Tingkah laku Nabi (sunnah fi’liyah)
“ sahabat melihat Nabi Muhammad SAW melakukan sholat sunnat dua roka’at sesudah sholat zuhur.
c. Perbuatan Nabi (sunnah Taqririyah)
Nabi melihat seorang sahabat memakan daging dhab di dekat Nabi. Nbi mengetahui, tetapi Nabi tidak melarang perbuatan
BAB III
Penutup
Kesimpulan
sunnah adalah:cara yang bisa dilakukan, apakah cara itu sesuai yang baik, atau buruk. Serta aunnah merupakan sumber huum ke dua setelah Al-Qur’an, dan sunnah berfungsi sebagai penjelas hukum dalam Al-Qur’an. Dan status sunnah dibagi dua yaitu qothhi dan zanni. Sunnah dibagi tiga yaitu sunnah qauliyah, sunnah fi’liyah, sunnah taqririyah.
Saran
Apabila dalam penulisan ini yang saya susun mengenai pembahasan tentang as sunnah sangat terbatas, serta saya senantiasa menunggu saran dari dosen pengampu mata kuliyah Ushul Fiqh, ilmu yang tentunya untu perbaikan dalam penulisan-penulisan selanjutnya.
Daftar pustaka
Syarifuddin, Amir. 2011.Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana Media Group
http://sucay-rm.blogspot.com/2011/12/as-sunnah.html di akses tanggal 11 April 2014 jam 19:51

AKIDAH AKHLAK

BAB I
PENDAHULUAN
l. LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam tradisi tasawuf , teori yang menyebut karakter keluhuran yang seharusnya dimiliki manusia. Dalam konteks perilaku (takhalluq), mengimplikasikan kesempurnaan. Perasaan menyatu dengan tuhan, kesetaraan, keadilan, keindahan, keutuhan, keserasian, kesederhanaan, dan sifat-sifat kebaikan lainya.
Peradapan manusia pada zaman globalisasi terperangkap oleh jeratan materialisme, hedonisme. Dimana dunia yang serba penuh kerakusan, ketidakjujuran, dan penindasan serta eksploitasi, maka jalan sufi menjadi pentinguntuk dipertimbangkan. Namun, penting disadari bahwa jalan sufi bukanlah jalan yang anti interaksi, melainkan jalan kebebasan.
Karena itu penting memahami bahwa jalan sufi bukan semata jalan menuju Tuhanyang isolatif(hanya menyibukkan diri dengan tuhan). Tapi jalan sufi adalah jalan sosial untuk mengurusi segala sesuatu bagi kemaslahatan umat manusia.
ll. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian Maqomat?
2. Apa saja struktur maqomat?
3. Apa pengertian hal?
4. Apa saja struktur hal?

BAB ll
PEMBAHASAN
A. Maqomat
Secara etimologis, maqomat adalah jamak dari maqom yang berarti kedudukan posisi, tingkatan(station) atau kedudukan dan tahapan dalam mendekatkan diri kepada Tuhan . Maqom yang arti dasarnya ‘’tempat berdiri. Dalam terminologi sufistik berarti tempat atau martabat seorang hamba dihadapan Allah pada saat ia berdiri menghadap kepada-Nya.
Secara harfiah maqomat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah.
Pendapat Al-Qusyairi, bahwa magom merupakan pengalaman puncak yang terjadi pada hamba Allah berat ketinggian martabatnya sebagai hasil dari riyadhah yang dilakukan.
Susunan karakter maqomat:
Al-Kalabadzi: taubat, zuhud, shabr, faqir, taqwa, ridho, mababbah, dan ma’rifat.
Al-Qusyairi merumuskan maqomat dengan: taubah, wara’, zuhud, tawakal, shabr, dan ridho.
Abu Nasr al-Sarraj yaitu :taubat, wara’, zuhud, faqr, shabr, tawakal, dan ridho.
Struktur Maqomat
Untuk itu dalam uraian ini, maqomat akan dijelaskan adalah maqomat yang disepakati secara umum
1. Taubah
Dengan melakukan taubat, jiwa seseorang akan kembali kepada fitrahnya. Seseorang menjadi tidak mudah luntur dalam pesona duniawi dan bebas dari segala sesuatuyang dapat menghalangi perjalanan menemukan diri fitri-nya
Diterangkan (QS. An-Nur, 24:31)
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah , hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
2. Wara
Merupakan menjauhi segala sesuatu yang tidak bermanfaat, baik menyangkut diri sendiri maupun orang lain. Nabi bersabda, jadilah kamu orang-orang yang wara’ agar kamu dapat menjadi orang yang paling tekun beribadah.. dalam Al-Qur’an surat Al-Muddatstsir ayat 1-5.
3. Zuhud
Secara harfiah zuhud berarti tidak ingin kepada sesuatu yang bersifat keduniawian. Zuhud sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh kehidupan dunia. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al-A’la, 87:17)
4. Faqr
Faqr adalah kondisi seseorang yang tidak membutuhkan apapun selain Tuhan, dan itu ditandai dengan tidak adanya harta benda. Tuhan menyangka sebagaimana kamu meyangka atau sangkaanmu adalah sangkaan Allah. (hadist Qudsi)
5. Shabr
Shabr merupakan sikap ketundukan secara total kepada Allah SWT, dan merupakan kondisi kejiwaan karena dorongan keimanan. (QS. Al-ahqof, 46:35) dan (QS. Al-Nahl, 16:127)

6. Tawakal
Orang yang selalu tawakal ditandai dengan selalu menyatunya perasaan tenang dan tentram serta penuh kerelaan atas segala yang diterimanya, optimis dan senantiasa memiliki harapan atas segala yang dicita-citakan

Dan bertawakallah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mumin itu harus bertawakkal. (QS. Al-Maidah, 5:11)
7. Ridha
Ridha merupakan keadaan mental dan kejiwaan yang senantiasa berlapang dada dalam menerima segala karunia yang diteima, maupun bala’ yang menimpa. Sikap mental ini adalah merupakan maqom tertinggi yang dicapai oleh orang yang melakukan latihan spiritual.
B. Hal

Wid tulung sing tawakal surat al maidah ayat 11 arabnya di tulis ya. Jangan lupa ya
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Maqomat merupakan jalan spiritual yang harus dilalui para sufi dalam mencapai tujuan luhurnya, melalui proses penyucian jiwa terhadap kecenderungan materi agar kembali ke jalan Tuhan. Struktur maqomat secara umum adalah taubah, wara’ zuhud, faqr, shabr, tawakkal, ridha.
Hal adalah
Saran
Demikian makalah yang kami tulis tentang maqomat dan hal. Kami sadar bahwa kami dalam penyusunan makalah banyak kesalahan dari segi penulisan maupun penyajian. Serta kami sadar minimnya referensi, untuk itu kritik dan saran dari dosen pengampu mata kuliah akhlah/tasawut dan teman-teman guna memperbaiki makalah kami selanjutnya. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Amin

DAFTAR PUSTAKA
Tohir, Moenir Nahrowi. 2012. Menjelajahi Eksistensi Tasawuf. Jakara:PT. As- Salam
Nata, Abuddin.2012. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers
Amin, Samsul Munir dkk.2005. Kamus Ilmu Tasawuf. Wonosobo:AMZAH

HADIST

Bersyukur,sabar dan berusaha

©    Rasulullah Mengagumi seorang mukmin yang bila ia memperoleh kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur. Bila ia ditimpa musibah, ia memuji Allah dan ia bersabar. ( HR.Ahmad)

©    Orang yang bahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang bila terkena ujian dan cobaan, dia bersabar. (HR.Ahmad)

©    Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah berdoa. (HR.Ath-Thabrani)

©    Iman terbagi dua separuh dalam sabar dan separuh dalam syukur.(HR.Al-Baikaqi)

©    Tidak ada suatu rezeki yang Allah berikan pada seorang hamba yang lebih luas baginya dari pada sabar. (HR.Al-Hakim)

©    “Ya Nabi, berilah aku wasiat” Rasullalah bersabda,”Jangan marah!” ditanya berulang kali dan tetap dijawab, “Jangan marah!” HR.Bukhari)

©    Sesungguhnya yang berkecukupan adalah orang yang hatinya selalu merasa cukup, dan orang fakir adalah orang yang hatinya selalu rakus. (HR. Ibnu Hibban)

©    Allah sangat enyukai orang-orang mukmin yang mempuyai pekerjaan.(Al-Hadist)

©    Sebaik-baik pekerjaan ialah usaha seseorang dengn tangannya sendiri.(Al-Hadist)

©    Memperoleh sesuatu dengan tangan sendiri adalah lebih baik dan lebih disukai dari pada meminta-minta.(Al-Hadist)

©    Hendaklah selalu berbuat baik dan jauhkanlah selalu dari perbuatan maksiat.(Al-Hadist)

©    Ya Allah Berkahilah Umatku( Muhmmad) yang pada waktu pagi hari mereka bangun (Bangun fajar).(HR.Ahmad)

©    Sesungguhnya rezeki mencari seorang hamba sebagaimana ajal mencarinya.(HR.Ath-Thabrani)

©    Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardu.(HR.Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

©    Seungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah/lelah dalam mencari rezeki yang halal.(HR.Ad-Dailami)

©    Berbaik sangka kepada Allah adalah termasuk ibadah yang baik.(HR. Abu Dawud)

©    Kaya itu bukanlah lantaran banyak harta. Tetapi kaya itu adalah kaya hati.(HR.Muslim)

©    Turunkanlah rezekimu(dari Allah)dengan mengeluarkan sedekah.(HR.Baihaqi)

©    Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah. (Al-Hadist)

©    Allah berfirman( didalam hadist Qudsi).” Hai Anak adam, infaklah (Nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (HR.Muslim)

©    Sesungguhnya sedekah itu dapat menghilangkan murka Allah

dan dpat mencegah dari kematian yang buruk. (HR.At-Tirmidzi)

©    Rasulullah bersabda : “Pintu-pintu sedekah itu adalah bertakbir, bertasbih, bertahmid, beristighfar, memerintahkan kepada kebaikan, dan mencegah dari pada yang munkar, menyingkirkan duri, tulang dan batu dijalan yang dilalui orang, menuntun orang buta, membantu orang tuli untuk mendengar sesuatu perkataan. Semua itu dalah pinu sedekah bagimu terhadap dirimu. “(HR. Ahmad)

©    Barang siapa menanam suatu tanaman, kemudan ada burung atau siapapun mencari rezeki, dan makan dari tanaman itu, maka bagi penanam tersebut adalah sebagai sedekah. (HR.Imam Ahmad dr Ibnu Khuzaimah)

©    Orang dermawan dekat kepada Allah, dekat kepada rahmatNya, serta selamat dari siksaNya, sedangkan orang yang kikir, jauh dari Allah, jauh dr rahmatNya, dan dekat sekali kepada siksanya.(Rasullulah SAW)

©    Rasulullah SAW memerintahkan agar dzakat itrah diberikan sebelum manusia berangkat shalat ied.(HR.MUSLIM)

©    Niat Seorang mukmin lebh baik dari amalnya.(HR.Al-Baihaqi dan Ar-Rabii’)

©    Tiada seorang muslim trtusuk duri atau lebih dari itu,kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa(HR.Bukhari)

©    Yang menyebabkan agama cacat adalah hawa nafsu(HR.Asy-Syihaab)

©    Permudahlah, jangan mempersulit, dan jadikan suasana yang tenteram. Jangan menakut nakuti.(HR.Muslim)

©    “Amal apakah yang disukai Allah?” Rasulullah berkata, “yang dikerjakan secara tetap (Istiqomah) walaupun sedikit.”(HR.Bukhari)

©    Barang siapa dikehendaki Allah kebaikan baginya, maka dia diuji (dicoba dengan satu musibah), Barang siapa yang memelihara kesopanan dirinya, Allah akan memeliara kesopanannya. Siapa yang merasa cukup, maka Allah akan mencukupinya, dan siapa yang melatih kesabaran, maka  Allah akn menyabarkannya. Dan tiada seorangpun mendapat karuni pemberian) Allah yang lebih baik dari kesabaran. (HR.Bukhari)

©    Tiada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan (pda hari kiamat) dari ahlak yang baik.(HR.Dawud)

©    Sesungguhnya orang yang termasuk orang yang baik-baik ialah orang yang paling baik ahlak dan adab sopannya. (Al-Hadist)

©    Barang siapa  diantara kalian yg melihat kemunkaran hendaknya ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak bisa melakukan dengan tangannya, hendaklah ia mengubah  dengan lisannya.Jika tidak bisa melakukan dengan lisannya, hendaklah ia melakukan dengan hatinya. Itulah iman yang paling lemah.”(HR.Bukhrari)

©    Dari Aisyah ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ memegang janji dengan baik adalah bagian dari iman,”(HR.Bukhari)

©    Rasulullah SA bersabda,” Orang yang pandai membaca alquran akan bersama para rasul yang mulia dan dan para waliullah, adpun orang yang membaca alqur’an dengan tersendat-sendat karena sulit baginya membaca alqur’an,maka ia mendapat dua pahala.”(Aisyah ra)

©    Wahai Abu Hurairah, potonglah kuku-kukumu, sesungguhnya setan mengikat ( melalui) kuku yang panjang.(HR.Ahmad)

©    Hiduplah  didunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.(HR.Bukhari)

©    Hidup didunia hanya sebagai tempat tinggal sementara untuk melanjutkan perjalanan nan jauh menuju keabadian.(Rasulullah)

©    Perbanyaklah kamu mengingat mati, karena hal itu bisa membersihkan dosa dan menyebabkan zuhud atau tidak cinta kepada dunia.

Hari ini (didunia) adlah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (diakherat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.(HR.Bukhari)

AKIDAH AKHLAK

Akidah secara bahasa artinya ikatan. Sedangkan secara istilah akidah artinya keyakinan hati dan pembenarannya terhadap sesuatu. Dalam pengertian agama maka pengertian akidah adalah kandungan rukun iman, yaitu:

  1. Beriman dengan Allah
  2. Beriman dengan para malaikat
  3. Beriman dengan kitab-kitab-Nya
  4. Beriman dengan para Rasul-Nya
  5. Beriman dengan hari akhir
  6. Beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk

Sehingga akidah ini juga bisa diartikan dengan keimanan yang mantap tanpa disertai keraguan di dalam hati seseorang (lihat At Tauhid lis Shaffil Awwal Al ‘Aali hal. 9, Mujmal Ushul hal. 5)

Kedudukan Akidah yang Benar

Akidah yang benar merupakan landasan tegaknya agama dan kunci diterimanya amalan. Hal ini sebagaimana ditetapkan oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia beramal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Allah ta’ala juga berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: Sungguh, apabila kamu berbuat syirik pasti akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)

Ayat-ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa amalan tidak akan diterima apabila tercampuri dengan kesyirikan. Oleh sebab itulah para Rasul sangat memperhatikan perbaikan akidah sebagai prioritas pertama dakwah mereka. Inilah dakwah pertama yang diserukan oleh para Rasul kepada kaum mereka; menyembah kepada Allah saja dan meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya.

Hal ini telah diberitakan oleh Allah di dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul yang menyerukan ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah)’” (QS. An Nahl: 36)

Bahkan setiap Rasul mengajak kepada kaumnya dengan seruan yang serupa yaitu, “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang benar) bagi kalian selain Dia.” (lihat QS. Al A’raaf: 59, 65, 73 dan 85). Inilah seruan yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan seluruh Nabi-Nabi kepada kaum mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di Mekkah sesudah beliau diutus sebagai Rasul selama 13 tahun mengajak orang-orang supaya mau bertauhid (mengesakan Allah dalam beribadah) dan demi memperbaiki akidah. Hal itu dikarenakan akidah adalah fondasi tegaknya bangunan agama. Para dai penyeru kebaikan telah menempuh jalan sebagaimana jalannya para nabi dan Rasul dari jaman ke jaman. Mereka selalu memulai dakwah dengan ajaran tauhid dan perbaikan akidah kemudian sesudah itu mereka menyampaikan berbagai permasalahan agama yang lainnya (lihat At Tauhid Li Shaffil Awwal Al ‘Aali, hal. 9-10).

Sebab-Sebab Penyimpangan dari Akidah yang Benar

Penyimpangan dari akidah yang benar adalah sumber petaka dan bencana. Seseorang yang tidak mempunyai akidah yang benar maka sangat rawan termakan oleh berbagai macam keraguan dan kerancuan pemikiran, sampai-sampai apabila mereka telah berputus asa maka mereka pun mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat mengenaskan yaitu dengan bunuh diri. Sebagaimana pernah kita dengar ada remaja atau pemuda yang gantung diri gara-gara diputus pacarnya.

Begitu pula sebuah masyarakat yang tidak dibangun di atas fondasi akidah yang benar akan sangat rawan terbius berbagai kotoran pemikiran materialisme (segala-galanya diukur dengan materi), sehingga apabila mereka diajak untuk menghadiri pengajian-pengajian yang membahas ilmu agama mereka pun malas karena menurut mereka hal itu tidak bisa menghasilkan keuntungan materi. Jadilah mereka budak-budak dunia, shalat pun mereka tinggalkan, masjid-masjid pun sepi seolah-olah kampung di mana masjid itu berada bukan kampungnya umat Islam. Alangkah memprihatinkan, wallaahul musta’aan (disadur dari At Tauhid Li Shaffil Awwal Al ‘Aali, hal. 12)

Oleh karena peranannya yang sangat penting ini maka kita juga harus mengetahui sebab-sebab penyimpangan dari akidah yang benar. Di antara penyebab itu adalah:

  1. Bodoh terhadap prinsip-prinsip akidah yang benar. Hal ini bisa terjadi karena sikap tidak mau mempelajarinya, tidak mau mengajarkannya, atau karena begitu sedikitnya perhatian yang dicurahkan untuknya. Ini mengakibatkan tumbuhnya sebuah generasi yang tidak memahami akidah yang benar dan tidak mengerti perkara-perkara yang bertentangan dengannya, sehingga yang benar dianggap batil dan yang batil pun dianggap benar. Hal ini sebagaimana pernah disinggung oleh Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Jalinan agama Islam itu akan terurai satu persatu, apabila di kalangan umat Islam tumbuh sebuah generasi yang tidak mengerti hakikat jahiliyah.”
  2. Ta’ashshub (fanatik) kepada nenek moyang dan tetap mempertahankannya meskipun hal itu termasuk kebatilan, dan meninggalkan semua ajaran yang bertentangan dengan ajaran nenek moyang walaupun hal itu termasuk kebenaran. Keadaan ini seperti keadaan orang-orang kafir yang dikisahkan Allah di dalam ayat-Nya, “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah wahyu yang diturunkan Tuhan kepada kalian!’ Mereka justru mengatakan, ‘Tidak, tetapi kami tetap akan mengikuti apa yang kami dapatkan dari nenek-nenek moyang kami’ (Allah katakan) Apakah mereka akan tetap mengikutinya meskipun nenek moyang mereka itu tidak memiliki pemahaman sedikit pun dan juga tidak mendapatkan hidayah?” (QS. Al Baqarah: 170)
  3. Taklid buta (mengikuti tanpa landasan dalil). Hal ini terjadi dengan mengambil pendapat-pendapat orang dalam permasalahan akidah tanpa mengetahui landasan dalil dan kebenarannya. Inilah kenyataan yang menimpa sekian banyak kelompok-kelompok sempalan seperti kaum Jahmiyah, Mu’tazilah dan lain sebagainya. Mereka mengikuti saja perkataan tokoh-tokoh sebelum mereka padahal mereka itu sesat. Maka mereka juga ikut-ikutan menjadi tersesat, jauh dari pemahaman akidah yang benar.
  4. Berlebih-lebihan dalam menghormati para wali dan orang-orang saleh. Mereka mengangkatnya melebihi kedudukannya sebagai manusia. Hal ini benar-benar terjadi hingga ada di antara mereka yang meyakini bahwa tokoh yang dikaguminya bisa mengetahui perkara gaib, padahal ilmu gaib hanya Allah yang mengetahuinya. Ada juga di antara mereka yang berkeyakinan bahwa wali yang sudah mati bisa mendatangkan manfaat, melancarkan rezeki dan bisa juga menolak bala dan musibah. Jadilah kubur-kubur wali ramai dikunjungi orang untuk meminta-minta berbagai hajat mereka. Mereka beralasan hal itu mereka lakukan karena mereka merasa sebagai orang-orang yang banyak dosanya, sehingga tidak pantas menghadap Allah sendirian. Karena itulah mereka menjadikan wali-wali yang telah mati itu sebagai perantara. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Bukhari). Beliau memperingatkan umat agar tidak melakukan sebagaimana apa yang mereka lakukan Kalau kubur nabi-nabi saja tidak boleh lalu bagaimana lagi dengan kubur orang selain Nabi ?
  5. Lalai dari merenungkan ayat-ayat Allah, baik ayat kauniyah maupun qur’aniyah. Ini terjadi karena terlalu mengagumi perkembangan kebudayaan materialistik yang digembar-gemborkan orang barat. Sampai-sampai masyarakat mengira bahwa kemajuan itu diukur dengan sejauh mana kita bisa meniru gaya hidup mereka. Mereka menyangka kecanggihan dan kekayaan materi adalah ukuran kehebatan, sampai-sampai mereka terheran-heran atas kecerdasan mereka. Mereka lupa akan kekuasaan dan keluasan ilmu Allah yang telah menciptakan mereka dan memudahkan berbagai perkara untuk mencapai kemajuan fisik semacam itu. Ini sebagaimana perkataan Qarun yang menyombongkan dirinya di hadapan manusia, “Sesungguhnya aku mendapatkan hartaku ini hanya karena pengetahuan yang kumiliki.” (QS. Al Qashash: 78). Padahal apa yang bisa dicapai oleh manusia itu tidaklah seberapa apabila dibandingkan kebesaran alam semesta yang diciptakan Allah Ta’ala. Allah berfirman yang artinya, “Allah lah yang menciptakan kamu dan perbuatanmu.” (QS. Ash Shaffaat: 96)
  6. Kebanyakan rumah tangga telah kehilangan bimbingan agama yang benar. Padahal peranan orang tua sebagai pembina putra-putrinya sangatlah besar. Hal ini sebagaimana telah digariskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari). Kita dapatkan anak-anak telah besar di bawah asuhan sebuah mesin yang disebut televisi. Mereka tiru busana artis idola, padahal busana sebagian mereka itu ketat, tipis dan menonjolkan aurat yang harusnya ditutupi. Setelah itu mereka pun lalai dari membaca Al Qur’an, merenungkan makna-maknanya dan malas menuntut ilmu agama.
  7. Kebanyakan media informasi dan penyiaran melalaikan tugas penting yang mereka emban. Sebagian besar siaran dan acara yang mereka tampilkan tidak memperhatikan aturan agama. Ini menimbulkan fasilitas-fasilitas itu berubah menjadi sarana perusak dan penghancur generasi umat Islam. Acara dan rubrik yang mereka suguhkan sedikit sekali menyuguhkan bimbingan akhlak mulia dan ajaran untuk menanamkan akidah yang benar. Hal itu muncul dalam bentuk siaran, bacaan maupun tayangan yang merusak. Sehingga hal ini menghasilkan tumbuhnya generasi penerus yang sangat asing dari ajaran Islam dan justru menjadi antek kebudayaan musuh-musuh Islam. Mereka berpikir dengan cara pikir aneh, mereka agungkan akalnya yang cupet, dan mereka jadikan dalil-dalil Al Qur’an dan Hadits menuruti kemauan berpikir mereka. Mereka mengaku Islam akan tetapi menghancurkan Islam dari dalam. (disadur dengan penambahan dari At Tauhid li Shaffil Awwal Al ‘Aali, hal. 12-13).

GRAFOLOGI

Karakter seseorang dapat dilihat dari tulisan tangannya, termasuk tanda tangan. Namun tidak semua orang mengerti bagaimana membaca karakter seseorang dari tanda tangannya,Ilmu PsiKologis ini disebut dengan nama GRAFOLOGI. Berikut beberapa petunjuk singkatnya:
1. Satu Titik di Bawah Tanda Tangan
Mereka lebih cenderung kepada seni klasik serta perkara yang mudah dan tenang. Orang dengan satu titik di bawah tanda tangannya juga menunjukkan bahwa orang tersebut berpendirian tetap.

2. Dua Titik di Bawah Tanda Tangan
Mereka boleh dikatakan berjiwa romantic, mudah ganti pasangan seperti menukar baju, memilih orang yang memiliki kecantikan, dan mereka sendiri berusaha untuk kelihatan menarik dan menarik perhatian orang lain.

3. Satu Garis di Bawah Tanda Tangan
Mempunyai keyakinan yang tinggi dan kepribadian yang baik, namun bersifat kikir. Mereka juga percaya kepada kebahagiaan dalam kehidupan manusia.

4. Tidak Ada Garis atau Titik di Bawah Tanda Tangan
Mereka ini selalu senang hidup dalam dunianya sendiri dan mereka juga jarang mau mendengar pendapat orang lain.Mereka ini boleh dikategorikan sebagai pencinta alam tetapi mereka juga mempunyai sifat agak kikir.

5. Tanda Tangan dengan Huruf yang Tidak Bersambung
Mereka ini sangat baik terhadap orang lain. Mempunyai hati yang baik, tidak mementingkan diri sendiri dan siap berkorban untuk kepentingan dan kebahagiaan orang yang dia sayangi. Tapi apabila terlalu banyak perkara yang mereka pikirkan, ini menyebabkan mereka akan cepat tersinggung.

6. Tanda Tangan yang Lengkap Seperti Nama

Mereka sangat baik hati dan bisa menyesuaikan diri dengan suasana apa saja dan siapa saja yang mereka temui. Golongan ini juga sangat teguh pendiriannnya serta memiliki keinginan yang sangat kuat dalam mendapatkan sesuatu.

7. Ada Persamaan antara Nama dan Tanda Tangan

Mereka ini berkeinginan untuk menjadi bijak tetapi mereka tidak pernah berpikir. Mereka ini tidak konsisten, dan selalu menukar ide atau pandangan sendiri seperti angin. Golongan ini tidak pernah berpikir baik buruk tentang sesuatu perkara. Biasanya, orang lain bisa mengambil hati mereka hanya dengan pujian.

8. Tidak Ada Persamaan antara Nama dan Tanda Tangan

Tanda tangan mereka tidak menonjolkan nama mereka. Golongan ini suka untuk tampil beda, dan suka menyembunyikan sesuatu. Mereka jarang untuk berterus terang tetapi mereka merupakan pendengar yang baik dan senantiasa memberi perhatian tentang apa yang orang lain sedang katakan.